Bukan Sekedar Buku Bertanya!

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Saya memutuskan untuk datang. Agenda sore itu tidak diatur sebelumnya. Namun, hati saya memaksa saya hadir. Ada yang berbeda.

Buka bersama anak yatim piatu yang digagas Scooter Tasikmalaya Club (STC) bukan cuma acara formal Ramadan. Ada sensasi unik. Ada suara yang tak biasa.

Di halaman Masjid Polres Tasikmalaya, saya lihat situasi yang jarang terjadi: Kapolres datang dengan kendaraan individu.

Andi Purwanto, Kapolres Tasikmalaya, hadir dengan Vespa Sprint hijau tua. Ia membonangkan seorang anak yatim.

Merkas STC terlihat di tubuhnya. Sepatu Converse hitam menempel di wajah. Pada hari itu, Andi terlihat lebih muda. Bahkan—kalau boleh jujur—lebih santai.

Jabatan seperti mengalir dalam harmoni. Saya tersenyum. Ini bukan pandangan protokol. Ini adalah pandangan persaudaraan.

Bagi saya, menyukai anak yatim selalu punya tempat istimewa. Ini bukan cuma berbagi makanan atau bantuan. Ini adalah cara membuka pintu rezeki yang sering terasa sulit.

Saya memperhatikan gestur para scooter. Mata mereka berputar ketika berbagi puas. Suara mereka tinggi bukan saat membahas teknologi, tapi saat berbicara santunan.

Saya menyebutnya: ini masa Scooter Bersyariah. Bukan dalam bentuk simbolisme. Tapi proses menuju kebaikan. Komunitas yang dulu dikenal dengan jalan raya, kini menapak jalan keberkahan.

Ketua panitia, Asep Saeful Efendi, bergerak cepat. Menyusun acara seperti orang merancang masa depan. Mang Ozon—panglima vespanya—terus berkoordinasi. Tubuhnya besar. Energi lebih besar lagi. Ia menikmati setiap detik kepedulian.

Mang Ade Dj. sibuk mencatat rencana. Merapikan alur. Semua menyatu. Tidak ada yang ingin menjadi pusat perhatian. Tidak ada yang mencari legitimasi media sosial. Mereka hanya berpikir satu hal: bagaimana cara memberi makna lalu berdampak.

Dewan Penasehat STC, Rahmat Slamet, hadir dengan Vespa Super. Jaket leavis melekat. Semananya seperti karakter Dilan. Bahkan mengajak istri, Indah Nali Hati. Seperti mengulang masa muda—tapi dengan makna lebih dewasa.

Setiap keberagaman dalam komunitas bisa menjadi fondasi perubahan positif. Jika dipandang dengan hati terbuka dan tekad kokoh.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan