Jakarta – Banyak anak muda saat ini memandang menjadi guru sebagai pilihan yang kurang menarik dibandingkan profesi lain yang menjanjikan fleksibilitas, kebebasan, dan penghasilan cepat. Gambaran ini sering terdengar masuk akal, tetapi tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas kerja di dunia modern hari ini.
Sebelum memutuskan untuk mengabaikan profesi ini, lebih baik melihat kembali nilai-nilai yang sebenarnya dipertaruhkan. Di Indonesia, ruang kelas bukan hanya tempat belajar-mengajar. Ia adalah ruang sosial yang menentukan kualitas masa depan generasi berikutnya. Literasi dasar, karakter kewargaan, serta kesehatan mental anak-anak banyak terbentuk melalui interaksi yang terjadi diantaranya. Di tengah ketimpangan sosial yang masih luas dan tekanan psikologis anak yang semakin meningkat, peran guru semakin krusial.
Angka jutaan guru di Indonesia sering dikaitkan dengan cerita krisis. Dengan人口 3,3 hingga 3,4 juta guru, isu seperti guru honorer dan ketidakpastian status kerja sering menjadi fokus perhatian. Namun, pembacaan ini sering menyederhanakan realitas. Bukan semua guru non-ASN berada dalam kondisi rentan. Banyak bekerja di sekolah swasta atau yayasan dengan skema penggajian yang tergantung pada kemampuan lembaga.
Perubahan kebijakan dalam beberapa tahun terakhir juga sering terlewat perhatian. Sejak 2021, pemerintah membuka jalur pengangkatan melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Lebih dari 500 ribu guru non-ASN telah diangkat melalui jalur ini. Meski risiko tetap ada, profesi guru tidak lagi tanpa arah. Isu guru honorer kini menjadi perhatian nasional dan menandai pergeseran kebijakan karier guru ke arah yang lebih jelas, meski berlangsung bertahap.
Di sisi lain, di balik narasi kerja fleksibel dan kebebasan finansial yang semakin populer di lingkup generasi muda, dunia kerja Generasi Z menunjukkan preferensi yang jauh lebih stabil. Berbagai pekerjaan populer, terutama yang berbasis media sosial, tetap memiliki ketidakpastian tinggi. Profesi seperti kreator konten atau influencer sangat bergantung pada algoritma dan perhatian publik yang mudah berubah. Banyak pelaku hidup tanpa pendapatan stabil, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa perlindungan pensiun. Yang berharga di puncak hanyalah minoritas.
Gaji guru perlu dibahas secara proporsional. Guru memang bukan profesi untuk mencari kekayaan instan, tetapi posisinya jauh dari gambaran “tidak menjanjikan”. Guru ASN sudah setara dengan rata-rata upah nasional di kisaran tiga juta rupiah per bulan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, guru ASN pemula memiliki penghasilan yang relatif kompetitif. Guru ASN bersertifikasi dengan tunjangan profesi dan daerah dapat mencapai penghasilan hingga mendekati dua kali lipat rata-rata nasional, disertai jaminan kesehatan, kepastian kontrak, dan hak pensiun.
Di Jakarta, spektrum penghasilan guru juga lebih beragam. Guru ASN dengan pengalaman dan sertifikasi tertentu dapat menghasilkan hingga lebih dari sepuluh juta rupiah per bulan. Di sekolah-skolah mapan swasta atau internasional, guru berpengalaman dengan kualifikasi khusus bahkan dapat meraih penghasilan belasan puluhan juta rupiah. Angka ini tidak mewakili mayoritas, tetapi cukup untuk membantah anggapan bahwa profesi ini sepenuhnya tertutup dari kesejahteraan ekonomi.
Dimensi lain yang jarang dibicarakan adalah peluang global untuk guru Indonesia. Di banyak negara, kekurangan tenaga pendidik menjadi persoalan serius, terutama untuk pendidikan dasar dan bahasa. Melalui sekolah internasional, program pertukaran, hingga pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), guru memang memiliki peluang kerja lintas negara. Profesi ini tidak sepenuhnya terikat secara geografis.
Soal jenjang karier, profesi guru sering dikritik karena dianggap stagnan. Kritik ini berasal dari logika promosi cepat. Namun, realitas kerja jangka panjang menunjukkan banyak profesi agresif di usia 20-an justru mengalami stagnasi atau kelelahan di usia berikutnya. Profesi guru bergerak dengan logika fungsional yang lebih stabil. Pengalaman, empati, dan kedewasaan menjadi modal utama, didukung jalur sertifikasi, kenaikan pangkat, dan peran kepemimpinan sekolah.
Menjadi guru saat ini bukan pilihan mundur dari zaman. Ini adalah pilihan sadar untuk terlibat langsung dalam kerja sosial yang paling mendasar: membentuk manusia. Meski tidak tanpa risiko, juga bukan ilusi. Di tengah dunia kerja yang semakin rapuh, profesi guru tetap menawarkan keberlanjutan, makna, dan dampak jangka panjang. Bagi Generasi Z yang ingin hidup layak tanpa kehilangan orientasi nilai, profesi guru layak dipertimbangkan kembali sebagai pilihan rasional, bukan sekadar romantisme pengabdian.
Dr. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S,
Dosen PGSD Universitas Sanata Dharma dan Kepala Humas Universitas Sanata Dharma.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.