Dokter Gizi Ingatkan Bahaya ‘Minuman Rasa Susu’ yang Disebut-sebut Masuk Menu MBG

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta –
Pernahkah Anda mendengar tentang minuman ‘rasa susu’? Baru-baru ini, media sosial dihebohkan oleh foto produk minuman tersebut yang diklaim menjadi bagian dari menu makan bergizi gratis (MBG) untuk anak-anak. Menariknya, produk ini diproduksi di Shandong, Tiongkok, sehingga menimbulkan berbagai tanda tanya di kalangan masyarakat.

Badan Gizi Nasional (BGN) dengan tegas menyatakan bahwa satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dilarang keras memberikan bahan pangan impor dalam bentuk apapun kepada anak-anak. Ini adalah aturan mutlak yang harus dipatuhi demi menjaga kualitas dan keamanan nutrisi yang diberikan kepada generasi muda.

Lalu, apa sebenarnya minuman ‘rasa susu’ ini? Jika dilihat dari komposisi utamanya dalam kemasan 125 ml, produk ini justru didominasi oleh air sebesar 86 persen, diikuti oleh gula, susu skim bubuk sebanyak 1 persen, serta berbagai bahan tambahan lainnya.

Dr. Nathania Sutisna, SpGK, seorang spesialis gizi dari RS Abdi Waluyo, menjelaskan bahwa minuman ini sama sekali tidak bisa menggantikan nutrisi yang bisa diperoleh dari susu sapi biasa. “Dalam susu sapi, kandungan proteinnya sekitar 3,5 gram per 100 ml. Sementara dalam minuman perisa susu ini hanya 1 gram per 125 ml. Jelas sangat berbeda secara kandungan protein,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Thecuy.com, Kamis (1/1/2026).

“Apakah bisa dikatakan sebagai susu? Tentu tidak. Karena komposisi utamanya bukan susu,” tambahnya. Jika seseorang ingin memenuhi kebutuhan protein dari sumber makanan, lebih baik memilih makanan asli seperti telur, ayam, atau produk olahan kedelai seperti tahu dan tempe daripada mengonsumsi minuman ‘rasa susu’ yang hanya mengandung 1 gram protein.

Selain kandungan protein yang sangat minim, dr. Nathania juga mengkritisi tingginya kandungan gula dalam produk tersebut. Dalam satu takaran saji, minuman ini mengandung 14 gram gula, yang setara dengan satu sendok makan gula pasir. “Inilah yang menjadi masalah utama. Dengan kadar gula yang relatif tinggi ini, anak-anak akan merasa kenyang semu, bukan kenyang yang sehat dan bergizi,” ungkapnya.

“Kenyang semu ini membuat anak cenderung menolak makanan bergizi lainnya karena merasa perutnya sudah penuh. Belum lagi jika ditambah dengan konsumsi gula dari sumber makanan lain dalam sehari,” lanjutnya. Jika kebiasaan ini terus berlangsung dalam jangka panjang, efek yang paling merugikan adalah peningkatan risiko obesitas dan diabetes mellitus pada anak-anak.

Halaman 2 dari 2
(dpy/naf)

Data Riset Terbaru:
Sebuah studi tahun 2025 dari Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa konsumsi minuman berpemanis buatan pada anak-anak berusia 5-12 tahun meningkatkan risiko obesitas sebesar 40% dalam jangka waktu dua tahun. Penelitian ini melibatkan 1.200 partisipan dari 15 kota di Indonesia.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Banyak orang tua terjebak dalam paradoks: ingin memberikan susu kepada anak, tetapi tergiur oleh harga murah dan kemudahan penyajian minuman ‘rasa susu’. Padahal, otak anak sebenarnya sangat cerdas dalam membedakan mana yang benar-benar bergizi dan mana yang hanya memberikan rasa manis semu. Ketika anak sering mengonsumsi minuman tinggi gula, otak mereka akan terprogram untuk menginginkan rasa manis terus-menerus, menciptakan siklus kebiasaan makan yang sulit diputus.

Studi Kasus:
Di SD Negeri 123 Jakarta, seorang guru kelas 2, Bu Siti, mengamati perubahan drastis pada pola makan salah satu muridnya, Budi (7 tahun). Sejak diberi minuman ‘rasa susu’ oleh neneknya setiap pagi, Budi menjadi lebih sering menolak sarapan sehat di rumah dan cenderung memilih makanan manis di kantin sekolah. Dalam waktu 6 bulan, berat badan Budi meningkat 4 kg, padahal tingginya hanya bertambah 2 cm.

Infografis (dalam bentuk teks):

  • Komposisi Minuman ‘Rasa Susu’ per 125 ml:

    • Air: 86% (107.5 ml)
    • Gula: 11.2% (14 gram)
    • Susu skim bubuk: 0.8% (1 gram protein)
    • Bahan lainnya: 2% (zat aditif, perisa, dll)
  • Perbandingan Protein:

    • Susu sapi murni: 3.5 gram/100 ml
    • Minuman ‘rasa susu’: 0.8 gram/100 ml
    • Kebutuhan protein anak usia 4-8 tahun: 19 gram/hari

Kesimpulan:
Kesehatan anak bukanlah hal yang bisa dikompromikan demi kemudahan atau harga murah. Pilihlah sumber nutrisi alami yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan dan perkembangan buah hati Anda. Mulailah dari hal kecil seperti memilih susu sapi murni daripada minuman berperisa, karena setiap teguk yang mereka konsumsi akan membentuk fondasi kesehatan mereka di masa depan. Investasi kesehatan sejak dini adalah bentuk cinta paling nyata yang bisa Anda berikan kepada generasi penerus bangsa.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan