Thecuy, tidak bisa disangkal bahwa krisis iklim menimbulkan dampak besar terhadap kelangsungan hidup manusia. Perubahan iklim dapat memicu cuaca ekstrem yang menjadi salah satu penyebab bencana alam dan kerusakan ekosistem. Masyarakat tidak hanya merasakan dampak langsung berupa ancaman terhadap keselamatan, tetapi juga menghadapi dampak sosial dan ekonomi akibat krisis iklim.
Namun, dampak yang dirasakan berbeda-beda, tergantung pada tingkat kerentanan masing-masing kelompok masyarakat. Misalnya, masyarakat berpenghasilan rendah akan merasakan dampak yang lebih parah akibat kenaikan biaya hidup, kerugian ekonomi, dan terpaksa harus mengungsi.
Sementara itu, perempuan juga menghadapi situasi yang lebih sulit karena beban domestik yang dibebankan pada mereka. Perempuan juga memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, ancaman keselamatan, dan masalah kesehatan reproduksi di tengah terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan sumber daya ekonomi akibat krisis iklim.
Maka dari itu, masalahnya bukan hanya bagaimana krisis iklim berdampak pada kehidupan manusia, tetapi juga bagaimana ketimpangan gender membuat perempuan menghadapi risiko dan tantangan yang berbeda. Mengapa krisis iklim juga perlu dianggap sebagai isu kesetaraan gender?
<section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="Kerentanan Bahan Pangan Hingga Kemiskinan" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="326569" dtr-ttl="Kerentanan Bahan Pangan Hingga Kemiskinan" onclick="_pt(this)" readability="30.976501305483">
<h2 class="fw-bold fs-5">Kerentanan Bahan Pangan Hingga Kemiskinan</h2>
<div readability="7">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/10/25/ketergantungan-perempuan-pada-sumber-daya-alamfoto-magnificcom-1793781969067.png?w=700&q=90" alt title/>
<p>Ketergantungan Perempuan Pada Sumber Daya Alam/Foto: Magnific.com</p>
</div>
<p>Menurut data UN Women, pada tahun 2050 krisis iklim diperkirakan akan membuat 158 juta perempuan jatuh ke dalam kemiskinan, atau 16 juta lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pria yang diperkirakan mengalami hal serupa. Angka ini menunjukkan bagaimana krisis iklim dapat memperburuk kondisi ekonomi perempuan, terutama mereka yang bergantung pada hasil alam untuk bertahan hidup.</p>
Sebagian besar perempuan, terutama yang tinggal di pedesaan, mengandalkan hasil panen dari sawah dan perkebunan, baik sebagai mata pencaharian maupun sumber pangan. Di Indonesia, temuan Komnas Perempuan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa konversi lahan di Papua menyebabkan perempuan kehilangan pekerjaan layak dan memaksa mereka beralih ke pekerjaan lain tanpa pengetahuan yang cukup tentang risiko pekerjaan tersebut. Sementara itu, dalam bencana banjir rob di Demak pada tahun 2017, perempuan menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk karena hilangnya hasil panen dan tambak.
Selain itu, karena beban domestik umumnya dibebankan pada perempuan, mereka menjadi sangat bergantung pada sumber daya alam. Ketika krisis iklim menyebabkan kelangkaan sumber daya alam, perempuan terpaksa menempuh jarak yang lebih jauh dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengumpulkan bahan pangan, air, dan kebutuhan dasar lainnya. Akibatnya, krisis iklim tidak hanya mengancam sumber penghidupan perempuan, tetapi juga menambah beban yang harus mereka tanggung.
Resiko Kekerasan, Ancaman Keselamatan, dan Kesehatan Perempuan
Resiko Kekerasan, Ancaman Keselamatan, dan Kesehatan Perempuan/Foto: UN MINUSTAH/Logan Abassi
Tegangan sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh krisis iklim juga dapat meningkatkan risiko kekerasan, Thecuy. Data dari UN Women menunjukkan bahwa kenaikan suhu global dapat meningkatkan tingkat stres individu yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, laporan menunjukkan bahwa angka pembunuhan terhadap perempuan meningkat sebesar 28% selama gelombang panas.
Komnas Perempuan, berdasarkan data UNESCO pada tahun 2016, juga menyoroti bahwa migrasi akibat krisis iklim dapat meningkatkan risiko perdagangan seks, serta risiko pemerkosaan ketika perempuan harus mencari air dan kayu bakar.
Selain ancaman kekerasan, perempuan juga rentan mengalami masalah kesehatan selama krisis iklim. Beban domestik dan peran reproduksi sosial, seperti merawat anggota keluarga, juga meningkatkan risiko kesehatan perempuan, baik secara fisik maupun psikis.
Ketika penghasilan berkurang, perempuan juga harus berhemat dan mencari penghasilan tambahan, yang dapat menambah beban pikiran dan tekanan psikologis. Situasi ini semakin diperburuk oleh sulitnya akses terhadap air bersih dan fasilitas kesehatan. Perempuan harus memikirkan kelangsungan hidup keluarganya di tengah keterbatasan tersebut, terutama ketika mereka sedang hamil dan membutuhkan perawatan kesehatan yang memadai.
Kerentanan Perempuan dan Ketidaksetaraan Gender
Kerentanan Perempuan dalam Krisis Iklim/Foto: UN Women/Mohammad Rakibul Hasan
Beban berlapis dan berbagai risiko yang dihadapi perempuan membuat mereka berada dalam posisi yang lebih rentan dari sudut pandang gender. Ketidaksetaraan gender yang melekat dalam masyarakat menjadikan perempuan diharapkan untuk memenuhi ekspektasi sosial berdasarkan peran gender tradisional, yaitu memikul beban domestik dan reproduksi sosial.
Di sisi lain, krisis iklim yang menyebabkan kesulitan akses terhadap sumber daya alam, bahan pangan, dan kebutuhan dasar, serta terganggunya perekonomian, membuat perempuan harus mencari sumber penghidupan lain di luar pekerjaan domestik yang tetap menjadi tanggung jawab mereka.
Risiko kekerasan terhadap perempuan juga berakar pada ketidaksetaraan dalam hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Posisi perempuan yang cenderung memiliki kekuasaan lebih rendah daripada laki-laki turut mendorong pembenaran dan normalisasi tindakan kekerasan berbasis gender.
Situasi ini semakin diperburuk oleh kurangnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan terkait penanganan krisis iklim. Pandangan patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas dan pembuat kebijakan dapat membatasi keterlibatan perempuan dalam menentukan kebijakan yang memengaruhi keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka.
Oleh karena itu, kerentanan perempuan dalam krisis iklim tidak hanya berkaitan dengan faktor biologis yang membedakan kondisi mereka dari kelompok gender lainnya. Ketidaksetaraan juga menempatkan perempuan dalam beban berlapis yang semakin merugikan mereka ketika krisis iklim terjadi. Krisis iklim tidak dapat dianggap sebagai fenomena yang netral gender. Oleh karena itu, pembahasan tentang krisis iklim juga perlu melibatkan perspektif perempuan dan kesetaraan gender.
Apa yang harus dilakukan?
Apa yang harus dilakukan?/Foto: Pexels/Markus Spiske
Meta description: Komnas Perempuan merekomendasikan kebijakan responsif gender, perlindungan korban kekerasan, dan pelibatan perempuan dalam penanganan krisis iklim.
Lantas, apa saja langkah yang bisa diambil untuk mengatasi kerentanan perempuan dalam menghadapi krisis iklim?
Komnas Perempuan merekomendasikan beberapa langkah, mulai dari merumuskan kebijakan dan mengalokasikan anggaran yang responsif gender, memperkuat akses terhadap layanan perlindungan korban kekerasan, hingga meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan terkait penanganan krisis iklim. Selain itu, dukungan terhadap akses sumber daya, teknologi, pelatihan, dan pengembangan mata pencaharian juga diperlukan untuk membantu perempuan beradaptasi dengan perubahan iklim.
Berbagai upaya tersebut perlu melibatkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat agar kebutuhan perempuan dan kelompok rentan lainnya dapat terpenuhi. Dengan demikian, penanganan krisis iklim tidak hanya cukup fokus pada upaya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan ketimpangan gender yang membuat perempuan menghadapi risiko dan beban yang berbeda.
Bagaimana pendapatmu, Thecuy?
***
Ingin menjadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa mengikuti berbagai acara online dan offline seru yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, bergabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
<p>(selesai)</p>
Terima kasih telah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah penulis di thecuy.com, sebuah website yang berfokus membagikan tips keuangan, investasi, dan cara mengelola uang dengan bijak, khususnya untuk pemula yang ingin belajar dari nol.
Melalui thecuy.com, saya ingin membantu pembaca memahami dunia finansial tanpa ribet, dengan bahasa yang sederhana.