4 Kebiasaan yang Menunjukkan Kamu Terlalu Keras pada Diri Sendiri

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Thecuy, pernahkah kamu merasa bahwa meskipun kamu sudah berusaha keras, kamu tetap merasa ada yang kurang dari dirimu? Apa pun yang kamu lakukan masih terasa belum memuaskan, sehingga kamu sulit merasa bangga pada dirimu sendiri.

Terkadang kita memang bisa menjadi orang yang paling kritis terhadap diri sendiri. Namun, kapan kebiasaan menyalahkan diri sendiri masih tergolong wajar, dan kapan hal itu justru jadi racun?

Yuk, kenali lebih jauh kebiasaan yang mungkin berkaitan dengan menjadi terlalu keras pada diri sendiri dan pahami bagaimana self-criticism dapat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri.


                                                                                                                                                                                            <section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="1. Berlebihan dalam Menyalahkan Diri Sendiri" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="325543" dtr-ttl="1. Berlebihan dalam Menyalahkan Diri Sendiri" onclick="_pt(this)" readability="27">
                            <h2 class="fw-bold fs-5">1. Being Excessively Hard on Yourself</h2>
                            <div readability="7">
                                <img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/10/10/ilustrasi-menyalahkan-diri-sendirifreepik-jcomp-1791804541675.png?w=700&q=90" alt title/>
                                <p>Image of self‑blame/Foto: Magnific/jcomp</p>
                            </div>
                            <p>Thecuy, salah mengetik dalam laporan, terlambat membalas pesan, atau lupa melakukan sesuatu sebenarnya adalah kesalahan sederhana. Namun jika kamu merasa bersalah dan terus memikirkan kejadian tersebut, itu adalah contoh dari menjadi terlalu keras pada diri sendiri.</p>

Kalimat seperti, “Kok aku ceroboh banget, sih?” atau “Aku memang nggak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar,” yang kamu ucapkan tentang kesalahan kecil yang kamu lakukan adalah hal-hal yang tidak perlu.

Satu kesalahan nggak otomatis membuat seluruh kemampuanmu menjadi buruk. Dalam ilmu psikologi, pola ini berkaitan dengan self-criticism, yaitu kecenderungan mengevaluasi diri sendiri secara keras dan negatif.

Kritik terhadap diri memang terkadang bisa membantu kita menyadari kekurangan. Namun, ketika berubah menjadi hinaan terhadap diri sendiri, kebiasaan ini justru dapat memperburuk perasaan dan membuat kita lebih sulit bangkit.

2. Being Overly Perfectistic

Image of perfectionism/Foto: Magnific/ jcomp

Pernah nggak kamu mendapatkan nilai bagus, tetapi tetap kecewa karena bukan yang tertinggi. Atau, pekerjaanmu sudah mendapat persetujuan, tetapi kamu masih merasa hasilnya belum pantas dibanggakan?

Menetapkan standar tinggi memang nggak selalu buruk, ya. Keinginan untuk melakukan sesuatu dengan baik bisa membantumu berkembang. Namun, ceritanya berbeda jika kamu merasa hasil yang kurang sempurna sama dengan kegagalan.

Dalam ilmu psikologi, hal ini dapat berkaitan dengan perfeksionisme. Menurut American Psychological Association (APA), perfeksionisme berkaitan dengan kecenderungan menetapkan standar yang sangat tinggi dan melakukan evaluasi kritis terhadap diri sendiri. Pada sebagian orang, kekhawatiran terhadap kesalahan dan penilaian orang lain juga menjadi bagian penting dari pola tersebut.

3. Struggling to Accept Compliments

Image of giving compliments/Foto: Magnific/garetsvisual

Thecuy, kalau kamu merasa sulit menerima pujian karena merasa tidak pantas atau belum memberikan yang terbaik, coba perhatikan bagaimana kamu memandang dirimu sendiri. Bisa jadi, kamu lebih mudah melihat kekurangan daripada mengakui hal-hal yang sudah berhasil kamu lakukan.

Ketika seseorang terbiasa mengkritik diri, pujian terkadang terasa bertentangan dengan penilaian negatif yang sudah telanjur diyakininya. Akibatnya, pujian lebih mudah ditolak, sementara kritik justru terasa lebih meyakinkan.

Mulai sekarang, kamu bisa berlatih menerima pujian tanpa harus menyangkalnya. Cukup katakan, “Terima kasih, aku senang kamu mengapresiasinya.” Kamu nggak perlu menjadi sempurna untuk boleh merasa bangga dengan sesuatu yang sudah kamu usahakan.

4. Frequently Comparing Yourself

Image of comparing oneself/Foto: Magnific/drobotdean

Scrolling media sosial sebentar, eh, tiba-tiba kamu melihat teman seusiamu naik jabatan, ada yang baru saja menikah, punya anak, atau pergi liburan ke luar negeri. Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan perjalanan hidupmu dengan mereka.

Pikiran seperti ini bisa muncul ketika kita terlalu sering menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri. Padahal, Thecuy, kita sering kali hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang, bukan seluruh proses dan kesulitan yang mereka alami.

Pada akhirnya, Thecuy, mengenali kebiasaan terlalu keras pada diri sendiri bukan berarti kamu harus berhenti mengevaluasi diri atau menurunkan semua targetmu. Namun, cobalah sesekali lihat kembali dirimu beberapa bulan atau tahun lalu. Adakah hal yang sekarang sudah bisa kamu lakukan, tetapi dahulu terasa sulit? Perkembangan seperti itu juga layak dihargai, meskipun bentuknya berbeda dari pencapaian orang lain.

__

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

                <p>(ria/ria)</p>

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan