Apakah Biaya Peluang Bikin Kamu Harus Menolak Kesempatan Karier?

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

“The price of anything is the amount of life you exchange for it.”

Kalimat ini berasal dari Henry David Thoreau dan dimuat dalam bukunya Walden.

Pada Senin pagi kamu menerima ajakan untuk bergabung proyek lintas divisi, padahal tenggat tugas utama tinggal tiga hari lagi dan kelas sertifikasi akan dimulai malam ini.

Apakah kamu berpikir, “Jika semua peluang ini tampak bagus, mana ada yang perlu dikorbankan?”

Di sinilah biaya peluang menjadi nyata, karena setiap pilihan menggunakan waktu dan energi yang tidak bisa dialokasikan ke opsi lain.

Biaya peluang bukan alasan untuk menolak setiap tawaran baru.

Ini adalah cara untuk memeriksa apa yang kamu korbankan ketika menerima sesuatu, lalu menilai apakah hasil akhirnya layak dibanding dengan prioritas utama yang terpaksa ditunda.

Mengenali dampak biaya peluang di era karier yang cepat berubah

Profesional muda melihat jadwal padat dan mempertimbangkan pilihan kerja
Setiap komitmen mengonsumsi sebagian dari waktu yang terbatas yang kamu miliki.

Misalnya, setelah rapat, makan, dan urusan rutin selesai, kamu memiliki sekitar delapan jam untuk bekerja secara fokus setiap harinya.

Jika proyek tambahan memakan waktu lima jam, kamu hanya tersisa tiga jam untuk menyelesaikan tugas utama atau mengembangkan keahlian yang sedang diperlukan tim.

Manfaat proyek tambahan tidak hanya terbatas pada pengalaman yang kamu dapatkan.

Nilai tersebut juga harus dibandingkan dengan pilihan terbaik yang lain yang hilang karena kamu memilih proyek tersebut.

Contohnya, proyek tersebut menawarkan kesempatan untuk presentasi di depan direktur, sementara kelas sertifikasi bisa meningkatkan peluang promosi dalam enam bulan ke depan.

Pilihan yang lebih baik tergantung pada tujuan kariermu, bukan pada seberapa menarik nama proyek atau seberapa besar rasa takut ketinggalan yang kamu rasakan.

Ekonom Greg Mankiw mendefinisikan konsep ini dalam buku Principles of Economics sebagai nilai dari pilihan terbaik yang dikesampingkan ketika seseorang mengambil suatu keputusan.

Jadi, biaya peluang bukan berarti semua hal yang tidak kamu lakukan sekaligus.

Fokusnya adalah pada satu pilihan terbaik yang paling nyata dan paling berharga bagimu pada saat itu.

Peluang menarik belum tentu cocok dengan arah kariermu

Karyawan menimbang proyek baru dalam rapat tim
Manfaat peluang dinilai dari dampaknya, bukan dari penampilan luarnya.

“Bagaimana kalau kamu menolak, dan peluang seperti ini tidak akan datang lagi?”

Peluang memang bisa hilang, tetapi rasa takut kehilangan bukan bukti bahwa peluang tersebut sejalan dengan arah kariermu.

Kamu bisa menilai sebuah peluang berdasarkan tiga hal: manfaat yang jelas, waktu yang dibutuhkan, dan hal penting yang harus dikorbankan.

Contohnya, pekerjaan sampingan menawarkan honor Rp2 juta dan pengalaman mengelola klien.

Jika pekerjaan tersebut membutuhkan sepuluh jam per minggu selama tiga bulan, hitung juga apakah waktu tersebut akan menggeser proyek utama yang menentukan kenaikan gaji atau portofoliomu.

Jika kamu bertujuan pindah ke bidang manajemen produk, pengalaman mengelola klien mungkin relevan.

Jika targetmu adalah meningkatkan kemampuan analisis data, tugas tersebut mungkin hanya menambah kesibukan tanpa membangun bukti kemampuan yang kamu butuhkan.

Kadang sebuah kesempatan terlihat sangat strategis hanya karena judul rapatnya terdengar mewah, padahal tugasnya hanyalah membuat notulen sepanjang tujuh halaman.

Kadika juga pernah cenderung menyebut setiap undangan rapat sebagai peluang karier, hehehe.

Penulis Greg McKeown dalam buku Essentialism mengajak pembaca untuk membedakan hal-hal penting dari berbagai hal yang hanya menarik.

Gagasan tersebut berguna ketika kamu perlu memilih, karena karier berkembang melalui kemajuan yang disengaja, bukan melalui kalender yang paling penuh.

Menghitung biaya peluang dengan metode mudah

Catatan perencanaan karier untuk membandingkan waktu dan manfaat
Catatan sederhana membantu memperjelas konsekuensi dari setiap pilihan.

“Kamu tidak tahu pilihan mana yang paling menguntungkan untuk masa depan.”

Kamu tidak perlu menebak seluruh masa depan untuk mengambil keputusan yang cukup baik minggu ini.

Cobalah langkah-langkah berikut sebelum menerima tugas atau komitmen baru.

  1. Tulis hasil yang ingin kamu capai dari peluang tersebut, misalnya keahlian baru, penghasilan tambahan, jaringan kerja, atau bukti yang bisa mendukung promosi.

  2. Catat waktu dan energi yang diperlukan dengan estimasi realistis, termasuk perjalanan, persiapan, dan waktu pemulihan setelah bekerja.

  3. Tulis satu hal terbaik yang akan tertunda jika kamu menerima peluang tersebut.

  4. Bandingkan hasil yang mungkin diperoleh dengan nilai dari alternatif yang kamu tinggalkan.

  5. Tentukan tanggal evaluasi agar keputusan ini bisa ditinjau ulang, misalnya setelah dua minggu atau setelah satu proyek selesai.

Contoh sederhana: kamu diminta untuk menjadi mentor internal selama empat jam per minggu selama dua bulan.

Manfaatnya adalah mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan dikenal oleh manajer lintas tim.

Namun, biaya peluangnya mungkin berupa empat jam yang bisa kamu gunakan untuk latihan presentasi dan menyusun portofolio yang diperlukan untuk melamar posisi baru.

Jika kamu memang ingin naik ke jalur manajerial, peran mentor mungkin lebih bernilai.

Jika kamu ingin beralih ke peran spesialis, portofolio yang kuat mungkin merupakan penggunaan waktu yang lebih tepat.

Perhitungan ini tidak perlu seakurat laporan keuangan.

Tujuannya adalah untuk membuat pilihan yang awalnya samar menjadi lebih jelas dampaknya.

Menyesuaikan peluang dengan fase kariermu saat ini

Profesional muda merencanakan prioritas karier untuk beberapa bulan ke depan
Prioritas yang jelas memudahkan kamu dalam memilih peluang yang tepat.

“Apakah ini berarti kamu harus selalu memilih satu jalur dan menutup semua pintu lain?”

Tidak, kamu bisa mencoba beberapa hal, tetapi kapasitasmu tetap terbatas.

Karena itu, tentukan dulu prioritas tiga bulan, bukan rencana hidup yang terlalu kaku.

Dalam satu periode, kamu mungkin fokus mengejar promosi, menjaga kesehatan, atau menyiapkan transisi karier.

Kesempatan yang mendukung prioritas tersebut bisa kamu pertimbangkan lebih serius.

Kesempatan lain bukan berarti buruk, tetapi mungkin lebih cocok pada waktu yang berbeda.

Annie Duke dalam buku Thinking in Bets mengingatkan bahwa keputusan dan hasil tidak selalu sama, karena keputusan yang baik kadang tetap berakhir dengan hasil yang kurang menguntungkan.

Jadi, ukur keputusan berdasarkan informasi dan pertimbangan yang kamu miliki saat memilih, bukan hanya dari hasilnya.

Setelah mencoba proyek baru, misalnya, periksa apakah keterampilan meningkat, jaringan kerja berkembang, atau beban justru mengganggu pekerjaan inti.

Jika manfaatnya tidak muncul setelah masa uji yang disepakati, kamu memiliki alasan konkret untuk berhenti atau mengubah porsinya.

Kamu juga bisa merespons tawaran dengan batasan yang jelas.

Misalnya, “Saya bisa membantu selama dua minggu dengan alokasi tiga jam per minggu, lalu kita evaluasi hasilnya.”

Jawaban seperti itu membuka ruang untuk mencoba tanpa mengorbankan seluruh waktu dan energimu.

Sebelum mengatakan ya pada peluang berikutnya, tanyakan satu hal pada diri sendiri: jika saya mengambil ini, hal penting apa yang harus menunggu?

Jawabanmu bisa menunjukkan bahwa peluang tersebut layak diperjuangkan, or that you are afraid of missing something that actually does not align with your direction.

Cobalah tulis satu peluang yang sedang kamu pertimbangkan dan satu hal yang akan kamu korbankan jika mengambilnya.

Dengan demikian, kamu bisa melihat bukan hanya apa yang mungkin kamu dapatkan, but also what kind of work life you are choosing.

Gratis dibaca. Kalau kamu terbantu, boleh traktir kopi.

Baca juga Berita lainnya di News pagennThank you for visiting thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan