Orang tua tentu memahami bahwa membesarkan seorang anak tidak bisa selalu berjalan mulus. Ada kalanya sang buah hati bisa diajak bekerja sama dan menurut dengan mudah, namun ada juga hari-hari di mana anak bisa memberontak dan enggan mengikuti perkataan orang tua.
Alih-alih langsung memarahi anak, para orang tua sebaiknya mencari ‘celah’ agar anak yang sedang tantrum atau marah bisa diajak berkomunikasi dan mau mendengarkan saran orang tua, Thecuy.
Melansir dari laman CNBC Make It, orang tua sebaiknya tidak menggunakan kata-kata tertentu saat anak tidak mau mendengarkan. Pasalnya, beberapa kalimat orang tua bisa membuat anak justru ada di mode ‘survival’ alih-alih menyadari apa kesalahannya.
Nah, menurut ahli, ini dia beberapa kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan orang tua ke anak.
<section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="1. 'Berhenti menangis, kamu akan baik-baik saja'" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="323155" dtr-ttl="1. 'Berhenti menangis, kamu akan baik-baik saja'" onclick="_pt(this)" readability="22">
<h2 class="fw-bold fs-5">1. 'Berhenti menangis, kamu akan baik-baik saja'</h2>
<div readability="7">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/05/16/menangani-anak-tantrum-dengan-tetap-tenangfoto-pexelscomjep-gambardella-1778988373598_11.jpeg?w=700&q=90" alt="Menangani anak tantrum membutuhkan emosi orang tua yang stabil agar situasi tidak semakin memanas. Memahami bahwa anak sedang kesulitan mengatur emosi bisa membantu orang tua lebih sabar menghadapi tantrum." title="Menangani anak tantrum membutuhkan emosi orang tua yang stabil agar situasi tidak semakin memanas. Memahami bahwa anak sedang kesulitan mengatur emosi bisa membantu orang tua lebih sabar menghadapi tantrum."/>
<p>Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: Pexels.com/Jep Gambardella</p>
</div>
<p>Para orang tua sebaiknya tidak mengatakan, "Berhenti menangis, kamu akan baik-baik saja" saat buah hati menangis, merajuk, atau tantrum. Sebaliknya, orang tua bisa mengatakan, "Ibu/Ayah paham kamu lagi kesal. Coba ceritakan apa yang terjadi".</p>
Kalimat ini lebih efektif karena jika orang tua mengabaikan emosi anak, hal tersebut bisa membuat anak berpikir bahwa perasaan mereka salah atau terlalu berat untuk ditangani.
Selain itu, pengabaian emosi bisa memutus ikatan batin dan anak yang merasa tidak ‘terhubung’ akan cenderung tidak mau bekerja sama dengan orang tua. Sebaliknya, saat anak merasa didengarkan, mereka akan lebih cepat tenang dan memercayai orang tuanya.
2. ‘Ayo cepat!’
Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: freepik.com/freepik
Thecuy, orang tua mungkin tanpa sadar kerap membuat anak melakukan sesuatu dengan terburu-buru seperti saat sarapan, saat anak sedang memakai sepatu bertali dan sebagainya.
Namun, menurut Linda Acredolo, PhD sekaligus salah satu penulis buku Baby Minds’, mendesak anak untuk segera menyelesaikan suatu hal justru menimbulkan stres tambahan, seperti dikutip dari laman Parents.
Alih-alih berkata, “Ayo cepat!” kepada anak, orang tua bisa mengatakan, “Ayo kita bergegas”. Kalimat ini menyampaikan pesan bahwa orang tua dan anak berada di pihak yang sama dan sama-sama berusaha mencapai tujuan yang sama.
Selain itu, orang tua juga bisa menanyakan apakah ada hal yang menghambat si anak untuk ‘bergegas’, serta menawarkan bantuan jika dibutuhkan.
3. ‘Berapa kali Ibu/Ayah harus memberitahu kamu?’
Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: magnific.com/magnific
Alih-alih memojokkan buah hati, orang tua bisa mengatakan, “Ibu/Ayah sudah menanyakan hal ini beberapa kali. Coba bantu Ibu/Ayah memahami apa yang membuat hal ini terasa sulit bagimu.”
Kalimat ini jauh lebih efektif karena pertanyaan yang dilontarkan saat merasa frustrasi sering kali mengasumsikan bahwa anak sengaja bersikap sulit. Padahal, apa yang tampak sebagai sikap membangkang sebenarnya bisa jadi merupakan bentuk kebingungan, hilangnya koneksi, atau adanya keterampilan yang belum berkembang dengan optimal, Thecuy.
Mengubah cara pandang seperti ini mendorong upaya mencari solusi alih-alih saling menyalahkan dan langkah inii juga yang menyasar akar permasalahannya.
—
Ingin menjadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikut berbagai acara online dan offline seru yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Ayo, gabung ke Buzznesia Community. Caranya: DAFTAR DI SINI!
<p>(sim/sim)</p>
terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah penulis di thecuy.com, sebuah website yang berfokus membagikan tips keuangan, investasi, dan cara mengelola uang dengan bijak, khususnya untuk pemula yang ingin belajar dari nol.
Melalui thecuy.com, saya ingin membantu pembaca memahami dunia finansial tanpa ribet, dengan bahasa yang sederhana.