Kamera Leica menjadi saksi bisu keberanian kakak beradik Mendur saat mereka mengabadikan peristiwa 17 Agustus 1945.

Saskia Puti

By Saskia Puti

🌍 Translate this article:
Teknologi dan Trivia

Di balik foto ikonik 17 Agustus 1945, simak kisah kepahlawanan Mendur Bersaudara dan bagaimana kamera Leica “Proklamasi” berhasil selamat dari tentara Jepang.

Penggunaan kamera Leica oleh dua saudara wartawan foto, Frans Soemarto Mendur dan Alex Impurung Mendur, menjadi salah satu fakta sejarah terpenting yang melatarbelakangi perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.

Berkat ketajaman lensa kamera analog buatan Jerman dan keberanian luar biasa kakak-beradik Mendur, seluruh rakyat Indonesia hingga kini dapat menyaksikan bukti visual otentik detik-detik pembacaan teks proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Bagi yang sering melihat foto Soekarno membacakan proklamasi atau momen pengibaran bendera Merah Putih di buku pelajaran, foto-foto tersebut sebenarnya tidak mudah diperoleh.

Di tengah pengawasan ketat pasukan pendudukan Jepang yang masih bersenjata lengkap saat itu, dua bersaudara dari Minahasa ini mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengabadikan momen paling berharga bagi sebuah bangsa. Mari kita telusuri kisah sejarah dan peran kamera legendaris di balik peristiwa bersejarah tersebut!

Kakak-beradik Mendur dan Kamera Analog Leica dari Jerman

Ilustrasi kamera analog klasik Leica dari era 1930-an, digunakan sebagai alat jurnalistik perang.
Ilustrasi kamera analog klasik Leica dari era 1930-an, digunakan sebagai alat jurnalistik perang. (Gemini)

Dua tokoh penting di balik dokumentasi foto bersejarah ini adalah Alex Impurung Mendur (lahir 7 November 1907) dan adiknya, Frans Soemarto Mendur (lahir 16 April 1913), yang berasal dari Kawangkoan, Sulawesi Utara.

Sebagai fotografer jurnalistik berpengalaman yang pernah bekerja untuk koran Java Bode dan kantor berita Domei, keduanya selalu membawa senjata andalan mereka: kamera analog merek Leica.

Leica adalah produsen kamera terkenal dari Jerman yang didirikan oleh Ernst Leitz pada tahun 1869.

Meskipun tidak ada catatan museum yang mengonfirmasi model spesifik yang digunakan Mendur Bersaudara, berdasarkan kronologi produksi Leica pada era tersebut, perangkat yang mereka gunakan kemungkinan besar adalah salah satu model ikonik berikut:

  • Leica I / Luxur / Compur (Rilis 1924–1925)
    • Seri pionir yang memperkenalkan format film 35mm ke dunia fotografi.
  • Leica Thread Mount / Leica II (Rilis 1930–1932)
    • Seri kamera dengan viewfinder terintegrasi yang ringkas untuk peliputan lapangan.
  • Leica III (Rilis 1933–1940-an)
    • Seri kamera mekanis tangguh yang paling diminati wartawan perang pada Perang Dunia Kedua.

Perjuangan Bersembunyi dan Mengubur Rol Film

Setelah mendengar kabar dari rekan wartawan bahwa Soekarno akan membacakan proklamasi pada pagi Jumat, 17 Agustus 1945, Alex dan Frans berangkat secara diam-diam ke kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Saat proklamasi berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB, suasana dipenuhi emosi dan ketegangan. Frans Mendur berhasil mengambil tiga foto berharga:

  1. Momen Soekarno membacakan teks proklamasi di sisi Bung Hatta.
  2. Momen pengibaran bendera Merah Putih oleh Kolonel Latief Hendradiningrat dari PETA.
  3. Suasana antusias massa yang memenuhi halaman rumah.

Sementara itu, Alex Mendur berhasil mengambil 36 foto dalam satu rol film, tapi sayangnya, saat kembali ke kantor berita Domei, seluruh rol filmnya disita dan dihancurkan oleh tentara Jepang.

Frans, yang lebih cerdik, tidak langsung memproses filmnya dan menyembunyikannya dengan menguburnya di halaman belakang kantor koran Asia Raya.

Rol film tersebut aman terkubur selama enam bulan, kemudian berhasil dikembangkan dan diterbitkan pertama kali di halaman depan Harian Merdeka pada 20 Februari 1946.

Mendirikan IPPHOS dan Monumen Pers Mendur

Tugu Pers Mendur Bersaudara di Minahasa, Sulawesi Utara, sebagai penghormatan bagi para fotografer proklamasi.
Tugu Pers Mendur Bersaudara di Minahasa, Sulawesi Utara, sebagai penghormatan bagi para fotografer proklamasi.

Setelah kemerdekaan, keberanian mereka berlanjut dengan mendirikan kantor berita foto independen pertama di Indonesia, Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) pada 2 Oktober 1946. IPPHOS menjadi sumber utama foto-foto perjuangan diplomasi dan perang gerilya Jenderal Sudirman yang dipublikasikan ke seluruh dunia.

Atas jasa besar mereka terhadap kedaulatan visual bangsa, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama pada 2009 dan Bintang Mahaputera Nararya pada 2010 kepada almarhum Alex dan Frans Mendur.

Untuk mengenang jasa kedua pahlawan pers ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Tugu Pers Mendur pada 11 Februari 2013 di kampung halaman mereka, Kelurahan Talikuran, Minahasa, Sulawesi Utara.

Kompleks monumen yang berbentuk rumah adat Minahasa ini menyimpan arsip foto asli dari awal berdirinya Republik Indonesia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Siapa fotografer yang berhasil menyelamatkan foto proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945?

Frans Soemarto Mendur menyelamatkan foto tersebut dengan mengubur rol film negatifnya di belakang kantor koran Asia Raya agar tidak diambil tentara Jepang.

Mengapa foto proklamasi karya Alex Mendur tidak pernah dipublikasikan?

Karena seluruh 36 foto proklamasi milik Alex Mendur disita dan dihancurkan oleh tentara pendudukan Jepang di kantor berita Domei.

Kamera jenis apa yang digunakan Mendur Bersaudara saat mengabadikan proklamasi?

Mereka menggunakan kamera analog format 35mm buatan Jerman, Leica.

Intinya, tanpa keberanian Frans dan Alex Mendur serta kamera Leica yang andal, Indonesia mungkin tidak akan memiliki bukti visual otentik dari momen paling sakral dalam sejarah berdirinya NKRI.

Apakah kamu penasaran dengan sejarah teknologi, dokumentasi pers, dan fakta-fakta jarang diketahui tentang pahlawan nasional?

Pastikan kamu terus membaca artikel terbaru di TheCuy Tekno agar tidak melewatkan pembahasan menarik berikutnya! Bagaimana rasanya mengubur rol film berisi sejarah bangsa di bawah ancaman musuh? Ceritakan di kolom komentar, ya.

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan