Refleksi Penegakan Hukum di Tengah Semifinal Piala Dunia

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

‘

Thecuy.com, Piala Dunia 2026 telah memasuki babak semifinal. Empat tim tersisa, four flags still flying, and millions of people are once again preparing to sacrifice their sleep for the tension. France will face Spain, while England meets Argentina. Big names converge in the last four, as if football were setting the final table for the champions to prove who truly deserves a place in the final.

Di ruang tamu, orang-orang duduk hampir identically: mata mereka tertuju pada layar, tangan mereka memegang cangkir, dan mulut mereka sibuk memberikan instruksi kepada pemain ribuan kilometer jauhnya. “Oper bola!” teriak seseorang, seolah-olah gelandang di lapangan dapat mendengar suara dari balik televisi. Ketika wasit meniup peluit, semua orang tiba-tiba menjadi ahli dalam hal aturan. Ketika VAR bekerja, semua orang menjadi seperti hakim konstitusional sepak bola.

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi dan TPPU, Kejagung Pelajari Berkas


Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi dan TPPU, Kejagung Pelajari Berkas

Saya memilih untuk menikmati pertandingan dengan secangkir kopi susu. Kopinya memberikan rasa pahit, gulanya memberikan rasa manis, dan susunya memberikan rasa yang lembut. Ketiga rasa ini bercampur dalam satu cangkir, seperti kehidupan yang jarang menyediakan kebenaran dalam satu warna. Kadang-kadang yang pahit justru menyelamatkan, yang manis bisa menyesatkan, dan yang putih belum tentu selalu suci.

Lalu layar berubah. Di negara kita sendiri, sebuah “pertandingan” lain sedang berlangsung. Bukan di stadion, melainkan di ruang penyidikan, gedung pemeriksaan, rumah yang digeledah, konferensi pers, dan linimasa yang tidak pernah tidur. Dua institusi penegak hukum terlihat sama-sama berlari cepat. Yang satu membuka kasus, menggeledah banyak tempat, menyita banyak barang bukti, dan mengumumkan temuan mereka. Yang lain juga bergerak, menetapkan tersangka dalam kasus pertambangan, melanjutkan penyidikan, dan menyatakan bahwa pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti. Baru-baru ini, beberapa kasus bahkan dipindahkan dari satu pihak ke pihak lain dengan istilah yang terdengar menyenangkan: sinergitas.

Publik pun menonton. Ada yang bertepuk tangan kepada pihak kiri. Ada yang membela pihak kanan. Ada yang mulai menghitung skor: siapa yang paling banyak menangkap, siapa yang paling besar menyita, siapa yang paling berani menggeledah, dan siapa yang paling sering muncul di layar televisi. Penegakan hukum akhirnya tampak seperti liga antar tim. Perbedaannya, pemain sepak bola mengejar gol, sedangkan aparat penegak hukum seharusnya mengejar kebenaran.

Tentu saja, kompetisi tidak selalu buruk. Dua penyerang dalam satu tim dapat saling berlomba mencetak gol dan membuat tim semakin kuat. Dua lembaga juga boleh berlomba menunjukkan prestasi. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah mereka bermain untuk lambang di dada mereka, atau untuk bendera yang berkibar di atas keduanya?

Di sinilah secangkir kopi susu mulai terasa seperti pelajaran kecil tentang negara. Kopi adalah kenyataan yang pahit. Ia mengingatkan kita bahwa korupsi bukan hanya sekadar angka dalam konferensi pers. Di baliknya ada listrik yang padam, tabungan yang terancam, industri yang terganggu, layanan yang memburuk, dan rakyat yang membayar tagihan akibat kesalahan orang-orang yang mungkin tidak pernah mereka kenal. Kepahitan ini harus diminum apa adanya. Jangan dikurangi dengan istilah-istilah rumit, jangan ditutupi dengan buih pencitraan, dan jangan disebut “dinamika” jika sebenarnya itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan.

KPK Dorong Penyalahgunaan Pengaruh Jabatan Masuk Revisi UU Tipikor
KPK Dorong Penyalahgunaan Pengaruh Jabatan Masuk Revisi UU Tipikor

Gula adalah narasi. Ia membuat kenyataan lebih mudah ditelan. Konferensi pers diperlukan, penjelasan kepada publik penting, dan transparansi memang harus dijaga. Namun, gula yang berlebihan dapat menutupi kualitas biji kopi. Penegakan hukum yang terlalu sibuk mencari tepuk tangan berisiko berubah menjadi pertunjukan. Barang bukti menjadi dekorasi panggung, rompi tahanan menjadi kostum, dan proses hukum berjalan mengikuti jadwal kamera. Padahal, orang yang diperiksa belum tentu bersalah, orang yang dicurigai belum tentu terbukti bersalah, dan orang yang ramai dihukum oleh media sosial belum tentu dihukum oleh pengadilan. Negara hukum tidak boleh bekerja seperti kolom komentar. Ia membutuhkan bukti, prosedur, hak untuk membela diri, pengujian, dan putusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Susu adalah harapan tentang kemurnian. Warnanya putih, rasanya lembut, tetapi ia juga mengajarkan sesuatu: putih adalah cita-cita, bukan sertifikat kesucian. Institusi tidak otomatis bersih hanya karena namanya mulia, seragamnya gagah, atau semboyannya indah. Kemurnian harus dibuktikan melalui keberanian untuk membersihkan bagian dalam dirinya sendiri.

Max Weber menyebut otoritas modern sebagai otoritas legal-rasional. Kekuasaan ditaati bukan karena siapa yang memegangnya, melainkan karena aturan yang menjadi dasarnya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kewenangan tidak menjadi benar hanya karena digunakan oleh lembaga yang kuat. Ia menjadi sah ketika dijalankan secara terukur, terbuka, konsisten, dan dapat diuji.

Karena itu, persaingan antara penegak hukum hanya akan berguna jika yang dipertandingkan adalah integritas. Berlombalah untuk mengembalikan kerugian negara. Berlombalah untuk menyelesaikan kasus tanpa pesanan. Berlombalah untuk melindungi saksi, menghormati hak tersangka, membuka informasi secara proporsional, dan membersihkan anggota sendiri yang menyimpang. Jika persaingan seperti itu terjadi, rakyat tidak perlu memilih pendukung. Siapa pun yang menang, keadilan akan memperoleh angka.

Namun, jika persaingan berubah menjadi saling mengunci, saling membuka aib, atau saling menggunakan kasus sebagai kartu tawar, yang kalah bukan salah satu lembaga. Yang kalah adalah kepercayaan publik. Dan kepercayaan, seperti aroma kopi yang sudah menguap, sulit dikembalikan hanya dengan menambah gula.

Haaland Tantang Rooney Tepati Janji Usai Norwegia ke Perempat Final Piala Dunia 2026
Haaland Tantang Rooney Tepati Janji Usai Norwegia ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Sepak bola memiliki aturan yang jelas. Ada garis lapangan, waktu pertandingan, wasit, VAR, kartu, dan papan skor. Penegakan hukum jauh lebih rumit karena yang dipertaruhkan bukan piala, melainkan nama baik, kebebasan, uang rakyat, bahkan masa depan keluarga seseorang. Itulah mengapa hukum tidak boleh dipimpin oleh sorak penonton. Ia harus tenang ketika publik gaduh, jernih ketika media keruh, dan adil ketika kepentingan datang membawa seragam.

Dua institusi yang sedang hangat dalam berita hari ini sebenarnya bukan dua tim. Mereka berada dalam satu tim yang bernama Republik. Mereka boleh memiliki cara bermain yang berbeda, tetapi gawang yang harus dijaga sama: keselamatan uang rakyat, kepastian hukum, dan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai keduanya terlalu sibuk berebut menjadi pencetak gol, sementara pertahanan negara dibiarkan terbuka.

Dalam bahasa iman, kekuasaan adalah amanah. Ia tidak menjadi ringan hanya karena dibungkus jabatan, dan tidak menjadi halal hanya karena dilakukan atas nama lembaga. Pada akhirnya, setiap kewenangan akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan hukum, di hadapan rakyat, dan di hadapan Tuhan.

Pertandingan semifinal akan berakhir. Ada yang masuk final, ada yang pulang. Namun, penegakan hukum tidak mengenal peluit panjang. Ia harus terus berjalan setelah kamera dimatikan dan penonton meninggalkan layar.

Saya meneguk kopi susu yang mulai dingin. Kepahitannya masih ada, kemanisan mulai berkurang, dan susunya telah menyatu. Mungkin begitulah seharusnya hukum bekerja: kebenaran tidak disembunyikan, keadilan tidak dipermanis, dan kekuasaan dilembutkan oleh nurani. Kopi boleh hitam, gula boleh manis, susu boleh putih. Namun, hukum harus tetap bening, agar rakyat dapat melihat dengan jelas siapa yang bekerja untuk keadilan dan siapa yang hanya sedang mengejar kemenangan.

‘

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan