Air Laut Pangandaran Tercemar Logam Berbahaya Akibat Tumpahan Batu Bara

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Di perairan Pangandaran, sebuah tongkang yang membawa ribuan ton batu bara terguling pada tanggal 16 Juni 2026, sehingga menyebabkan batu bara tersebut tumpah ke laut. Hampir satu bulan telah berlalu, namun pembersihan masih belum selesai, sehingga Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan DPRD Kabupaten Pangandaran mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan konkret dalam menangani tumpahan batu bara di perairan Pangandaran.

Ai Saadiyah Dwidaningsih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, dalam sebuah pernyataan tertulisnya menyampaikan bahwa gelombang laut yang tinggi telah menghancurkan bongkahan batu bara menjadi partikel-partikel halus yang tersebar di kolom air. Material tersebut tidak mudah terurai sehingga mengubah kondisi fisik maupun kimia perairan. Hasil uji laboratorium menunjukkan partikel halus batu bara menghalangi penetrasi cahaya matahari ke dasar laut.

“Kondisi itu berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan perairan, terutama dengan menurunnya kadar Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen/DO) hingga berada di bawah ambang batas normal,” ujarnya.

“Parameter DO ini mempengaruhi secara signifikan daya dukung makhluk hidup di dalam air. Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil tangkapan nelayan atau menekan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) pada tambak maupun hatchery yang memanfaatkan air laut,” katanya.

Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat pun mengingatkan adanya ancaman jangka panjang dari endapan batu bara di dasar laut. Material itu berpotensi melepaskan berbagai logam berat melalui proses pelindian (leaching), seperti arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium, yang dapat mencemari lingkungan perairan secara berkepanjangan. Pengujian sedimen dasar laut menemukan akumulasi logam berat dalam konsentrasi tinggi, dengan kandungan arsenik, kromium, dan nikel sebagai unsur dominan, disusul timbal, kadmium, serta merkuri.

Penelitian terbaru (2024) tentang tumpahan batu bara di ekosistem pesisir mengungkapkan bahwa partikel halus batu bara tidak hanya mengurangi penetrasi cahaya tetapi juga mengikat logam berat, sehingga meningkatkan toksisitas bagi organisme laut. Studi tersebut menyoroti penggunaan bioremediasi berbasis alga sebagai metode yang menjanjikan untuk menyerap logam dan mempercepat degradasi partikel batu bara. Infografis: Timeline of response actions – from detection to remediation.

Studi kasus dari tumpahan serupa di Taiwan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa respons cepat dengan pengerahan kapal pembersih dan penggunaan sorbent alami dapat mengurangi dampak lingkungan hingga 70 %. Pelajaran dari kasus tersebut menekankan pentingnya kesiapan peralatan dan koordinasi antarlembaga sebelum insiden terjadi.

Infographic: Coal spill response timeline – from detection to remediation.

The Pangandaran coal disaster shows how quickly a single accident can cripple marine life and local livelihoods. Communities, regulators, and scientists must unite to act fast, clean thoroughly, and prevent future spills. Together we can restore the sea’s health and secure a sustainable future for every fisher who calls these waters home.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan