Longser Tasikmalaya Melawan Zaman dengan Panggung yang Jadi Benteng Tradisi

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Tasikmalaya, Radartasik.ID — Arus hiburan digital yang semakin cepat membuat perhatian masyarakat semakin terbatas, tetapi seni teater rakyat khas Sunda terus berjuang untuk membantu diri sendiri. Seni ini menghadapi tantangan regenerasi, ruang pertunjukan yang minim, hingga selera generasi muda yang lebih memilih media sosial daripada panggung budaya.

Yayasan Silih Anjang Sono bersama Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya siapkan tatanan parawadaran teater rakyat Tamu Agung. Karya ini adalah adaptasi karya Rusia Nikolai Gogol dalam format Longser. Pementasan tersedia dalam Juli 2026 di Lapangan Balai Kota Tasikmalaya dengan akses gratis bagi masyarakat.

Dana Indonesia tahun 2025, di bawah kategori Pemanfaatan Ruang Publik, menjadi dukungan untuk ini. Longser bukan sekadar hiburan. Seni ini memiliki struktur dramaturgi, teknik pantun, serta kritik sosial yang kuat. Setiap pementasan dimulai dengan tatalu, kemudian berkembang menjadi cerita yang penuh humor, sindiran, serta pesan moral.

Sejarahnya mencerminkan masa keemasan ketika Ateng Japar mendirikan grup Pancawarna pada 1939. Dari seniman jalanan, kelompok ini berhasil memicu kenaikan kelas Longser hingga tampil di gedung formal tanpa kehilangan identitas. Namun setelah wafatnya Ateng Japar pada 2002, Longser mulai berantakan. Regenerasi seniman lambat, serta ruang pertunjukan tradisional semakin terbatas.

Akademisi internasional seperti Profesor Jörgen Hellman dari University of Gothenburg mencatat Longser sebagai seni yang tetap menghadapi pertarikan antara pelestarian budaya dan perubahan sosial. Di Tasikmalaya, perjuangan ini juga dipimpin oleh almarhum Cupit Danuarta. Ia dianggap memegang peran penting dalam menjaga nilai lisan, estetika, serta semangat teater rakyat Sunda.

Penghidupan Longser memerlukan dukungan komunitas. Setiap pementasan yang sukses tidak hanya menghidupkan warisan lokal, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita. Peran seniman tradisional tetap krusial, terutama dalam memicu minat generasi muda melalui pendekatan inovatif.

Taman budaya seperti Longser yang mengalami penurunan harus dihidupi dengan strategi yang praktis. Kolaborasi antarinstansi, dukungan dana publik, dan kampanye digital yang benar-benar memadukan tradisi dengan teknologi dapat menjadi solusi.

Tamu Agung dalam Juli 2026 menjadi kesempatan besar untuk masyarakat. Hadirlah, rasakan cerita yang berburu budaya, serta jadi bagian dari perjuangan untuk menjaga identitas Sunda. Setiap tatalu yang diputar adalah panggilan untuk memperingati sejarah, serta panggilan untuk menjaga budaya tetap hidup di tengah modernitas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan