Dari ‘ACup of Java’ hingga Geisha: Perjalanan Kopi Indonesia di Panggung Global

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

kopi indonesia memiliki cerita panjang yang mulai dari masa kolonial hingga menjadi bagian penting di pasar kopi dunia. di serpong, minggu (10/5/2026), muliadi widodo, penggemar kopi, menjelajahi perjalanan kopi nusantara mulai dari popularitas ‘a cup of java’ hingga fenomena geisha panama. ceritanya dimulai dari afrika, tempat kopi pertama kali ditemukan ketika penggembala melihat kambing tetap aktif setelah makan buah kopi,Yang kemudian menginspirasi nama warung kopiDancing Goat. dari afrika, kopi menyebar ke tengah Timur dan europa, dengan italia menjadi pionir budaya kedai kopi modern dan mesin espresso.

ada juga cerita tentang indonesia. muliadi mengungkapkan bahwa kopi jawa pernah menjadi salah satu kopi terkemuka di dunia pada era kolonial belanda. kopi asal jawa bahkan dijual di den haag dan dikenal dengan istilah ‘a cup of java’. saat itu, kopi dari indonesia, khususnya jawa, menjadi kopi termahal di lelang tersebut. popularitas kopi jawa memengaruhi munculnya istilah ‘java’ di dunia komputer.

meski demikian, indonesia memiliki potensi besar karena berada di jalur coffee belt. namun, muliadi menyatakan indonesia masih menghadapi masalah struktural. salah satunya adalah dukungan pemerintah ke petani kopi yang kurang. Vietnam mampu melebihi indonesia dalam produksi kopi karena dukungan pemerintah yang lebih nyata. sebaliknya, petani kopi indonesia sering tidak mendapatkan pelatihan yang memadai, serta lahan kopi sering berkonflik dengan kawasan hutan.

dunia specialty coffee berkembang cepat. muliadi menyebutkan nama-nama seperti geisha panama, liberica, excelsa, hingga black ivory—kopi yang diproses dengan pencernaan gajah dan menjadi terjangkau. geisha panama dikenal karena aroma khas yang ditagih ketat oleh pemerintah panama. meski demikian, muliadi percaya indonesia memiliki varietas kopi menarik, seperti excelsa dengan aroma nangka kuat, red caturra, serta kopi anaerobik dari kerinci.

untuk masa depan, muliadi menekankan bahwa tantangan utama indonesia bukan tanah atau iklim, melainkan konsistensi pengetahuan dari pemberi hingga konsumen. kopi terbaik lahir dari kombinasi petani yang memahami panen, roaster yang memahami rasa, dan ekosistem yang mendukung kualitas. “indonesia sebenarnya enggak kalah,” tegasnya.

menjelang akhir sesi omakase, espresso panas diuang ke air soda dingin, menghasilkan rasa ringan dan berbuih yang mengingatkan pada root beer. di meja kecil rumah muliadi di serpong, kopi bukan sekadar minuman, melainkan cerita tentang gunung, perdagangan, sejarah, eksperimen rasa, dan masa depan indonesia yang sudah lama dikenal dunia melalui secangkir kopi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan