Relokasi Korban Gempa 2006 di Sleman: Kisah dari Kampung Mati ke Desa Wisata

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gejala gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menggelburkan Sleman. Di kawasan Padukuhan Nglepen dan Sengir, tempatwohn yang terhancur kini menjadi hutan lebat yang dikenal sebagai kampung mati. Namun, di dekat lokasi tersebut, kompleks berbentuk kubah (dome) dengan atap cor semen dan dinding berwarna-warni mulai populer sebagai Rumah Teletubbies.

Waris di area dome baru dibangun untuk menampung warga yang kehilangan rumah karena gempa. Desain bulat ibarat igloo, lengkungan semen, dan warna-warni membuatnya menjadi simbol wisata. Fasilitas umum seperti masjid dan ruang pertemuan juga menggunakan bentuk dome. Setiap akhir pekan, tempat ini menjadi destinasi untuk siswa dan keluarga.

Pandemi COVID-19 yang mulai dari 2019 meredut pecahan wisata. Lasiyem (70), warga rumah dome, mengingatkan bahwa sebelum pandemi, lokasi itu sangat penuh pengunjung. Sekarang, kunjungan harian sulit muncul kecuali mingguan. Meskipun demikian, beberapa rumah dome telah dioptimalkan dengan penambahan struktur baru, sehingga bentuk kubah asli semakin terbalei.

Gempa 2006 bukan hanya mengubah struktur fisik, tetapi juga menciptakan ruang baru seperti kampung mati di Prambanan. Jalan akses sekarang aspal ditelusuri pepohonan rimbun, sisa bangunan seperti tembok dan jembatan setapak masih tersisa di antara tumbuhan. Lasiyem menyertakan kisah penyelamatan keluarga saat gempa terjadi, termasuk tidak ada korban di RT-nya karena semua sudah keluar.

Kisah ini menunjukkan bagaimana bencana dapat menggerakkan inovasi hunian serta mendorong pembangunan wisata. Meski popularitas Rumah Teletubbies turun, kompleks dome tetap menjadi simbol ketahanan warga.

Inilah contoh bagaimana trageda dapat diubah menjadi peluang unik. Rumah dome yang awalnya solusi temporal kini mengajak pengetahuan pencinta sejarah lokal. Pengembaunan dengan teknologi sederhana dan kreativitas warga membuktikan bahwa dukungan komunitas bisa menjadi fondasi wisata yang berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan