PorsadinXI Dikenali Sebagai Panggung Santri Berprestasi dengan 300 Peserta Adu Ilmu dan Seni

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

PERSADIN XI diKelurahan Mangkubumi, Tasikmalaya, kembali berlangsung dengan suasana penuh semangat. Ini merupakan penegakan bahwa peserta dari berbagai madrasah kembali melestarikan nilai keislaman melalui kompetisi akademik, seni, dan olahraga. Setiap tahun, sekitar 300 peserta terlibat dalam ajang yang disertai berbagai lomba seperti tahfidz, cerdas cermat, dan berbagai aktivitas olahraga.

Ketua PERSADIN, H Agus Muslim, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ritual. Ia menjadi sarana membangun karakter peserta, meningkatkan mental kompetitif, dan memanfaatkan potensi generasi muda berdasarkan nilai-nilai agama. “PERSADIN bukan hanya untuk pelombaan, tapi juga untuk membangun ketangguhannya. Peserta harus mampu menghadapi tantangan modern tanpa kehilangan identitas agama,” kata ia.

Arah dari PERSADIN juga mencakup momen pengingat agar generasi muda tetap terhubung dengan nilai-nilai spiritual. Dalam era digitalisasi yang pesat, peserta tetap fokus pada ilmu agama, seni, dan sportivitas. “Jangan sampai terpaku di layar gawai, tapi jauh dari nilai-nilai yang benar,” ujarnya.

Pelayanan dari DPR PKDT Kelurahan Mangkubumi, Enas Nasihin, mencerminkan semangat pendidikan diniyah yang tetap kuat di masyarakat. Semangat peserta tahun ini menunjukkan kesiapan mereka untuk menghadapi persaingan sehat.

Lomba diadakan beragam, mulai dari tahfidz juz 30, qiraatil kutub, hingga lomba olahraga seperti lari sprint dan bulu tangkis. Para organisator mendukung peserta dengan dorongan emosional, berkesan bahwa setiap peserta berani bersaing dengan rasa percaya diri.

PERSADIN XI juga menjadi bukti bahwa madrasah diniyah tetap relevan. Meski banyak peserta tertarik pada teknologi, mereka tetap mengembangkan keterampilan ilmu agama dan seni. Ini menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan antara perkembangan digital dan nilai-nilai tradisional.

Di tengah lomba yang menanti, peserta terus menunjukkan ketekunan dan semangat. Suasana kompetisi berlangsung berpenuh energi, ditambah dukungan dari guru dan orang tua. Hasilnya tidak hanya mengisi syair, tapi juga menjadi pengalaman pembelajaran yang berharga.

Semangat ini diharapkan bisa menjadi peluncuran untuk peserta yang nantinya bisa mewakili Mangkubumi dalam kompetisi yang lebih tinggi. PERSADINXI tetap menjadi contoh bagaimana pendidikan diniyah bisa beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan esensi nilai-nilai agama.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan