Simulasi Bencana Inklusif di Tasikmalaya: Edukasi dan Peran PR Hulu Sungai

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.ID โ€” Pelatihan kebencanaan yang melibatkan kelompok disabilitas digelar di McDonaldโ€™s Siliwangi, Tasikmalaya, pada 25 April 2026. Aktivitas ini bukan hanya latihan evakuasi, tetapi juga cerminan dari usaha kota untuk melindungi segala rakyat dalam situasi bencana.

Dikaitnya 22 orang tenaga kerja, terdiri dari 10 dari BPBD, 7 dari Damkar, dan 5 dari PMI. Peserta meliputi 46 orang cemas, 12 yang tidak bisa mendengar, 3 dengan sindrom Down, serta 1 yang menggunakan roda. Angka tersebut mencerminkan realitas rakyat yang sering terlewat dalam skenario kebencanaan.

Sebagai wali wali kota, Diky Candra menekankan dua hal utama dari kegiatan ini: peningkatan kesadaran masyarakat tentang bencana, serta pelatihan saling kenal yang jarang terjadi. โ€œIni bukan hanya untuk BPBD, tetapi juga untuk membangun jaringan antara pemerintah dan masyarakat difabel,โ€ kata ia.

Semangat peserta menjadi penanda yang kuat. Meski ada kesulitan, mereka tetap aktif berpartisipasi. Diky menambahkan, โ€œAda yang merasa malu, tetapi mereka tetap berani. Sementara kita yang sehat kadang terasa bebas.โ€

Masalah genangan air di Tasikmalaya menjadi isu utama yang dipengaruhi. Akumulasi sediment pasir dari kawasan hulu hingga saluran drainase di bawah permukaan, ditambah sampah, memicu banjir. Pemkot mencoba solusi temporal seperti pengendapan air, meski mahal dan tidak berkesan jangka panjang.

Pemkot juga mencoba menggabungkan pelestarian lingkungan dengan wisata air, seperti arung jeram di Sungai Citanduy atau rencana wisata keluarga di Karangresik. Strategi ini diharapkan meminimalkan penurunan kualitas air.

Harniwan Obech,wakil Papeditas, mengingatkan belum banyak SLB yang mendapatkan edukasi mendalam tentang kebencanaan bencana. โ€œIni perlu dimulai sejak dini, sehingga siswa bisa mengetahui langkah-langkah saat sirene berbunyi,โ€ kata ia.

Praktik ini dianggap awal dari pergerakan inklusif. Diky berharap edukasi akan ditingkatkan hingga anak usia dini, sehingga kesiapsiagaan bencana menjadi kebiasaan, bukan reaksiๆ€ฅๆ•‘.

Tasikmalaya menunjukkan bahwa pelatihan inklusif bisa menjadi solusi kreatif. Dengan melibatkan segala rakyat, kota tidak hanya mengurangi risiko bencana, tetapi juga membangun keamanan bersama.

Setiap simulasi seperti ini adalah langkah kecil untuk mendekati realitas. Semakin banyak pelatihan yang dilakukan, semakin besar kesadaran masyarakat. Kesiapan bencana bukan hanya soal alat atau teknologi, tetapi juga refleksi kesejahteraan sosial.

Setiap peserta disabilitas yang berpartisipasi adalah pengingat bahwa keamanan bencana harus dirancang untuk semua orang. Kita harus terus belajar dari merekaโ€”ada ketahanan, ada semangat, dan ada keberanian dalam menghadapi ketidakpastian.

Inilah inti dari inklusivitas: tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar untuk berperan. Dengan saling mengenal dan saling belajar, kita bisa membangun masyarakat yang lebih kuat, bahkan sebelum bencana tiba.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan