Agus Khas Jepara

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Sayaduduk di sebuah hotel di Soreang, hanya ingin merelaksasi. Waktu mengalir tanpa tujuan. Saya menunggu kejadian berikutnya. Tapi mata saya tertarik ketika melihat wajah seseorang. Saya terasa seperti pernah melihatnya sebelum. Ia pernah tersenyum, lebih hangat.

“Mau ngopi dulu?” tanya orang tersebut.

Kami duduk di lobi hotel, suasana intim. Di depan kami, secangkir espresso panas dan buah hangat. Pertemuan ini terjadi di depan Dr. H. Agus Sutisna, S.H., M.H. Nama yang membuat saya terkejut. Agus? Nama yang sering dikaitkan dengan masyarakat Sunda. Saya langsung bertanya.

Dia jawab dengan santai, “Iya, lahir di Bandung.” Karena itu, ia memulai hidupnya di Bandung. Sekolah dasarnya di SDN Citarip Barat 1, lalu SMP di Bandung. Namun, kehidupannya berubah ketika ia pindah ke Jepara. Di sana, ia tidak langsung menjadi politisi. Sebelum itu, ia memulai dari dunia mebel.

Seperti Joko Widodo, yang juga berasal dari dunia mebel. Tapi perjalanan Agus berbeda. Ia tidak langsung melekat ke kursi pejabat tinggi. Hingga saat ini, ia menjadi Ketua DPRD. “Baru,” katanya dalam hati, bukan “hanya”.

Agus dikenal di Jawa Tengah karena kemudahan beradaptasi. Bahasa jawaknya kini formal, pekat. Tapi ketika saya menyapannya dalam bahasa Sunda, ia langsung membalas dengan fasih. Bernama kader PPP, ia juga dikenal di Jawa Tengah karena tidak zamin pada ulama.

Di Jepara, Agus diakui karena tidak menghakimi komunitas religius. Di sana, restu ulama adalah fondasi. Ia bisa berinteraksi dengan kiai, gabungan, atau ajeng.

Pernyataan-nyataannya mengalir halus, seperti air di sungai. Kami tertawa beberapa kali. Suasana makin tenang, karena ia politik. Namun, percakapan tidak terlalu formal. Bahkan, ia bisa berdiskusi tentang isu-isu masyarakat.

Karena di Jawa Tengah, politik sering terlihat terdekat dengan agama. Agus adalah contoh yang tidak membenci itu. Ia tidak hanya politik, tapi juga memahami nilai-nilai masyarakat.

Keseluruhan percakapan ini menunjukkan bagaimana Agus dapat mengadaptasi. Meski tidak langsung melekat ke kedudukan tinggi, ia tetap bisa berkontribusi. Hukumnya, adaptasi dan keberatan bisa membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan