Lari dan Perasaan Publik yang Diabaikan di Tasikmalaya (Part 2)

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.ID – Masalah yang dihadapi tidak terletak pada gerakan lari Wali Kota. Yang lebih keragaman adalah jarak emosional yang mulai membengkak antara pemimpin dan masyarakat.

Di sisi positif, lari sebagai simbol keaktifan bisa menjadi solusi. Namun jika dilakukan tanpa memahami kondisi warga, itu bisa berujung jadi penanda keterbukan. Saat seorang pemimpin berlari siang siang sambil warga bersenang-senang di bawah arang, perasaan tidak akan menjadi inspirasi. Nah, hal yang muncul adalah perbandingan.

Publik tidak menolak olahraga, tetapi menolak pengabaikan. Mereka tidak mempertanyakan 5 kilometer yang dijalani. Yang mereka rasakan adalah kuantitas langkah yang diambil untuk merendam diri dalam isu. Pemimpin bukan runner, ia lebih seperti orang yang menembus jalan kaki panjang. Ada saatnya berhenti, ada saatnya berbelok, bahkan ada saatnya mundur sedikit.

Di kolom komentar, kritikan muncul berulang. Bukan karena keinginan menyamar, tapi karena itu satu-satunya ruang dialog yang tersedia. Saat dialog formal terasa tertutup, satire menjadi alternatif untuk mengekspresikan ketidakpuasan.

Kata “Lari wae” yang ditulis sederhana pun menyimpan makna dalamnya. Kalimat pendek itu bukan permintaan untuk olahraga. Tapi panggilan bagi mengakui kekurangan. Banyak yang menulis dengan lebih jelas: masyarakat tidak ingin diarahkan untuk tidak marah. Marah adalah respons terakhir mereka setelah rasa terpinggung sudah lama. Yang mereka minta bukan panggung, bukan acara simbolis.

Program GEMAS menghadapi ujian terburuk saat ini. Bukan sebenarnya soal konsistensi kebijakan, tapi sepiya sensitivitas. Bagaimana program sehat tetap terasa sehat ketika suasana batin masyarakat sudah terasa tidak baik? Jawabannya sederhana. Bisa. Asal pemimpin bisa mengetahui kapan harus berlari, dan kapan harus terobos.

Sebab masyarakat tidak butuh pemimpin yang selalu di depan. Ada yang ingin melihat pemimpin yang duduk di samping, mendengar tanpa jam, merespons tanpa kamera. Jika tidak, lari akan kehilangan maknanya. Ia tidak lagi terkait dengan hidup sehat, melainkan menjadi simbol ketergesaan atau bahkan ketidakhadiran.

Ketidakhadiran itu bukan masalah rakyat. Hal yang tersingkir adalah kepercayaan. (red)

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan