Kisah Dokter Mencemaskan Bayi dengan Kelainan Jantung Bawaan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kelainan jantung bawaan masih menjadi tantangan penting di Indonesia. Kelainan ini termasuk dalam kategori jantung biru dan seringkali membutuhkan intervensi medis segera. Salah satu kondisi kritis dalam kelompok ini adalah Tetralogi Fallot (TOF), yang dapat menyebabkan kekacauan jika tidakditangani cepat.

Dr. Budi Rahmat, spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dari BraveHeart (Center Of Excellent) RS Brawijaya Saharjo, menjelaskan bahwa kelainan jantung bawaan dibagi menjadi dua kelompok utama: jantung biru dan tidak biru. Kelainan jantung biru biasanya lebih mudah terdeteksi dan berbahaya, sementara yang tidak biru cenderung tidak menunjukkan gejala yang jelas.

Seperti yang disebut oleh Dr. Budi saat bersanksi dengan Thecuy.com, Sebelumnya ini ia menangani seorang bayi usia 1 tahun 4 bulan dengan TOF. Gejala seperti batuk berulang dan tubuh berubah menjadi biru saat kelelahan menjadi indikator yang ingin diperhatikan.

Lama-lama ini, pasien tersebut melalui periksaan medis yang mengarah pada diagnosa TOF. Penanganan yang diputuskan adalah operasi koreksi total. Dokter menekankan bahwa penundaan penanganan dapat meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang, kerusakan organ vital, hingga kematian.

Puluhan ribu bayi di Indonesia terdarah dengan kelainan jantung tiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 12.500 bayi bertindak kritis dan memerlukan intervensi dalam satu bulan pertama kehidupannya. Namun, kapasitas penanganan di Indonesia masih terbatas. Secara nasional, hanya sekitar 3.000 kasus yang dapat ditangani setiap tahun, termasuk TOF.

Dr. Budi mengungkapkan bahwa 5%-10% dari total pasien jantung bawaan di Indonesia terkait dengan TOF. Insidennya diperkirakan mencapai 3 hingga 5 kasus per 10.000 kelahiran. Meski demikian, jumlah operasional yang dilakukan setiap tahun masih memadai untuk memenuhi kebutuhan.

TOF disebabkan oleh dua masalah utama dalam sistem sirkulasi darah. Pertama, ada kebocoran di area jantung yang membuat darah bersih dan kotor bercampur. Kedua, aliran darah ke paru-paru tersebarat. Sebagai hasilnya, darah tidak bisa dibersihkan secara optimal, sehingga tubuh terlihat biru.

Kebocoran di TOF sangat berpengaruh pada tingkat keparahan. Semakin sempit aliran darah ke paru-paru, risiko kematian pasien meningkat. Namun, operasi koreksi total menggunakan mesin jantung paru (heart-lung-machine) dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Data global menunjukkan tingkat keberhasilan operasi mencapai 97,5-98,5%, sedangkan di Indonesia saat ini mencapai 97%.

Gejala TOF tidak selalu terlihat di awal kehidupan bayi. Tanda-tanda seperti kulit, hidung, atau ujung jari berwarna biru, kelelahan cepat, atau sulit naik berat badan menjadi perhatian. Dr. Budi menekankan bahwa bayi yang capek lalu berubah menjadi biru harus diperiksa segera.

Ketika tidak ditangani, TOF dapat menyebabkan kematian, retak organ vital, atau gangguan tumbuh kembang. Operasi ini harus dilakukan dengan cepat setelah diagnosa. Di Indonesia, risiko kematian pasien tetap ada dan perlu dioptimalkan melalui kolaborasi rumah sakit rujukan dan layanan spesialis.

Data terkini menunjukkan bahwa di tahun 2025, jumlah pasien TOF di Indonesia meningkat hingga 4.000 kasus per tahun. Hal ini menyiratkan bahwa sistem kesehatan harus dilancarkan untuk mencegah keterlambatan penanganan.

Bayangkan, jika setiap abadian anak dengan TOF dapat ditangani secara optimal, banyak kehilangan hidup bisa dihindari. Kolaborasi antarinstitusi, investasi teknologi medis, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah yang krusial.

Setiap usia bayi yang terdarah dengan TOF adalah peluang untuk menjaga hidup. Dengan kerja sama intensif antara dokter, orang tua, dan pemerintah, potensi penanganan yang lebih baik dapat dicapai. Jangan ragu untuk mencari bantuan medis segera jika ada tanda-tanda anomali di bayi.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan