Kematian Berbahaya Akibat Alergi Daging Merah yang Diusung Kutu

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Salah satu pria berusia 47 tahun di New Jersey, AS, wafat karena kondisi medis yang jarang terjadi, yang baru dipahami setelah ia tergerak oleh kutu. Laporan kasus ini, yang terbit di jurnal medis The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, menjelaskan bahwa pria ini meninggal sekitar empat jam setelah menyantap hamburger di acara barbekyu. Meski anaknya dan paramedis berusaha menyelamatkannya, nyawa tidak dapat dAMPU diselamatkan setelah dibawa ke rumah sakit.

Kasus ini diwujudkan penting karena banyak dokter di AS masih belum memahami sindrom alpha-gal. Alpha-gal adalah gula yang terdapat pada semua mamalia kecuali manusia dan primata lain. Di sindrom ini, sistem imun manusia bereaksi terhadap gula tersebut, memicu gejala dari ringan hingga mengancam nyawa. Gejala bisa berupa gatal-gatal, mual, muntah, nyeri perut, sesak napas, penurunan tekanan darah, pusing, hingga anafilaksis.

Gigitan kutu menjadi pemicu karena air liurnya mengandung alpha-gal. Hal ini membuat sistem imun lebih sensitif. Saat pasien kembali mengonsumsi produk hewani yang mengandung gula ini, tubuh akan bereaksi berlebihan, meski sebelumnya makanan tersebut bisa dikonsumsi tanpa masalah. Penulis laporan menekankan pentingnya meningkatkan edukasi publik di wilayah dengan populasi kutu yang meningkat, karena kesadaran dokter masih terbatas.

Salah satu hal yang menarik dalam kasus ini adalah gejala awal yang tidak dianggap berbahaya. Beberapa minggu sebelum wafat, pria tersebut mengalami nyeri perut, diare, dan muntah setelah mengonsumsi daging sapi. Meski gejala berkurang beberapa jam, tanda-tanda ini merupakan awal kondisi yang lebih kritis. Dua minggu kemudian, setelah merokok burger di pesta barbekyu, anafilaksis terjadi dengan cepat.

Penyelidik mendapati bahwa pria ini tidak digigit kutu dalam setahun terakhir, tetapi pernah mengalami gigitan tungau. Namun, para peneliti mencatat bahwa gigitan tersebut alih-alih dari kutu biasa, mungkin berasal dari larva kutu bintang tunggal (Amblyomma americanum). Species ini, yang sering terkait dengan sindrom alpha-gal, sedang meningkat di New Jersey. Faktor lingkungan seperti populasi rusa ekor putih yang meningkat juga mendorong peningkatan jumlah kutu yang mengandung alergi.

Awalnya, autopsi tidak menemukan indikasi anafilaksis, sehingga kematian dianggap sebagai kematian ‘mendadak’. Namun, setelah istrinya meminta bantuan dokter anak, analisis darah menunjukkan adanya antibodi terhadap alpha-gal dan kadar triptase yang sangat tinggi. Hal ini membuktikan reaksi alergi yang sangat parah.

Kasus ini mengingatkan kita bahwa alergi bisa muncul dari sumber tak terduga, seperti gigitan kutu. Semua orang harus lebih cermat dalam memahami risiko lingkungan sekitar, terutama di wilayah dengan populasi kutu yang melonjak. Edukasi tentang sindrom alpha-gal perlu prioritas untuk mencegah penularan dan mencegah tragedi seperti ini.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan