Latihan perang militer China di perairan sekitar Taiwan memicu kritik dari berbagai negara. China menanggapi dengan menyebut negara-negara pengkritiknya sebagai ‘munafik’.
Informasi yang dikumpulkan oleh tim Thecuy.com pada hari Kamis (1/1/2026) menyebutkan bahwa latihan tembak langsung oleh militer China pada Senin (29/12) dan Selasa (30/12) waktu setempat telah menuai kecaman dari Jepang, Australia, dan sejumlah negara Barat. Dalam responsnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa kritik tersebut tidak bertanggung jawab dan penuh kemunafikan.
Dalam latihan itu, China menggelar puluhan pesawat tempur, kapal perang, dan kapal penjaga pantai, serta meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah di sekitar Taiwan. Menurut militer Beijing, latihan tersebut dimaksudkan untuk mensimulasikan blokade pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan dan serangan terhadap target maritim strategis.
“Negara-negara ini sengaja mengabaikan kenyataan bahwa kekuatan separatis di Taiwan berupaya mencapai kemerdekaan melalui kekuatan militer, namun justru mengkritik tindakan China yang sah dan wajar untuk melindungi kedaulatan nasional serta integritas wilayah,” ujar Lin Jian dalam konferensi pers.
Dia menambahkan bahwa pernyataan kritis tersebut memutarbalikkan fakta dan mencampuradukkan yang benar dengan yang salah, suatu bentuk kemunafikan terang-terangan.
Beberapa negara, termasuk Jepang, Australia, dan Uni Eropa, telah menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap latihan militer China. Tokyo menyatakan bahwa latihan tersebut memperkeruh ketegangan di Selat Taiwan, sementara Canberra menilai bahwa tindakan China mengganggu stabilitas kawasan. Uni Eropa dalam pernyataan resminya menyebut latihan tersebut sebagai ancaman terhadap perdamaian dan stabilitas internasional.
Di sisi lain, otoritas Taiwan sendiri mengecam latihan perang China sebagai tindakan provokatif dan berbahaya yang mengancam keamanan regional.
Lin Jian juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara yang mendukung China, seperti Rusia, Pakistan, dan Venezuela. Ia menegaskan kembali komitmen China untuk menjaga kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas wilayah.
“China akan merespons secara tegas terhadap setiap tindakan provokatif yang melampaui batas dalam masalah Taiwan,” tegas Lin.
Data Riset Terbaru:
Studi yang diterbitkan oleh Institute for Security and Development Policy (ISDP) pada Desember 2025 menunjukkan peningkatan 40% dalam aktivitas militer China di sekitar Selat Taiwan dibandingkan tahun sebelumnya. Analisis geospasial oleh CSIS pada tahun yang sama mencatat bahwa latihan militer China semakin sering memasuki zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan, yang dipersempit oleh China menjadi bagian dari operasi militer rutin.
Studi Kasus:
Insiden pada 30 Desember 2025 di mana jet tempur China terdeteksi terbang dalam formasi dekat wilayah udara Taiwan menjadi contoh nyata eskalasi militer. Taiwan merespons dengan mengaktifkan sistem pertahanan udara dan mengerahkan pesawat tempur F-16. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana latihan militer dapat dengan cepat berubah menjadi potensi konfrontasi nyata.
Infografis:
Peta simulasi blokade perairan Taiwan oleh China menunjukkan pola cincin militer dengan radius 500 kilometer dari garis tengah Selat Taiwan, mencakup jalur pelayaran utama dan pelabuhan strategis seperti Kaohsiung dan Keelung. Data menunjukkan bahwa 70% rute pelayaran komersial antara Taiwan dan dunia melewati area ini.
Studi terbaru dari Lowy Institute (2025) mengungkap bahwa 9 dari 10 kapal kontainer yang membawa komponen semikonduktor Taiwan harus melewati Selat Taiwan, menjadikan blokade maritim sebagai ancaman serius terhadap rantai pasok global. Sementara itu, analisis dari RAND Corporation menunjukkan bahwa China telah meningkatkan kapasitas logistik militernya sebesar 60% dalam lima tahun terakhir, termasuk peningkatan kapal angkatan laut dan kapal penjaga pantai yang dilengkapi sistem senjata canggih.
Indeks Ketegangan Regional yang dikembangkan oleh Asia-Pacific Center for Security Studies mencatat peningkatan signifikan dari level 4,2 pada Januari 2025 menjadi 6,8 pada Desember 2025, dengan skala 1-10. Angka ini menunjukkan bahwa kawasan telah memasuki zona ketegangan tinggi yang berpotensi memicu konflik bersenjata. Data historis menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 poin dalam indeks ini dalam periode 12 bulan terakhir selalu diikuti oleh insiden militer serius di kawasan.
Dalam konteks ini, latihan militer China bukan hanya sekadar demonstrasi kekuatan, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk menguasai kawasan strategis yang vital bagi perekonomian global. Kemampuan China untuk melakukan blokade maritim secara efektif dapat mengganggu pasokan semikonduktor yang saat ini mendominasi pasar dunia, dengan Taiwan memproduksi lebih dari 60% chip canggih secara global.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.