Perang Siber Modern, Indonesia Perlu Strategi Pertahanan Angkatan Cyber

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pada Senin (8/9), di Universitas Pertahanan RI, Sentul, Bogor, Bobby Adhityo Rizaldi, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, membahas pentingnya adanya satuan khusus siber dalam TNI. Dalam disertasinya yang berjudul “Pembentukan Matra Keempat TNI untuk Memperkuat Strategi Pertahanan Negara dalam Menghadapi Serangan dan Perang Siber,” ia menyatakan bahwa era perang modern saat ini melibatkan ruang siber selain darat, laut, dan udara.

Serangan siber dapat merusak sistem militer, sektor energi, hingga infrastruktur penting. Tanpa persiapan yang memadai, keamanan dan kedaulatan nasional tetap rentan. Data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan terjadinya sekitar satu miliar serangan siber pada tahun 2022, menunjukkan bahwa ruang siber sudah menjadi medan perang baru.

Bobby merancang konsep pembentukan Matra Siber TNI yang melibatkan tiga aspek utama: kekuatan, gelar, dan kemampuan. Pertama, Satuan Siber akan terdiri dari 100 personel ahli dengan anggaran sekitar Rp 48 triliun selama enam tahun. Kedua, Satuan ini akan diintegrasikan ke dalam struktur TNI dengan latihan gabungan siber tahunan. Ketiga, fokus pada deteksi dini, respon cepat, dan ketahanan terhadap serangan seperti malware, ransomware, maupun serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS).

Menurut Bobby, Matra Siber akan menjadi pelindung digitalيده negara di abad ini. Beberapa negara sudah mengakui siber sebagai domain perang resmi, seperti NATO sejak 2016 dan Singapura yang sudah membentuk Digital and Intelligence Service (DIS). Indonesia harus segera mengembangkan satuan siber untuk melindungi kepentingan nasional dari serangan digital.

Dalam disertasinya, Bobby mengusulkan model strategi pertahanan siber yang menggabungkan CIA triad (kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi), kerangka NIST, dan pendekatan Basic Acts of Reconnaissance (BAR). Model ini memfokuskan pada deteksi ancaman, respon cepat, dan pemulihan sistem. Selain itu, dia juga mengusulkan kerangka Sixware yang mencakup brainware, hardware, firmware, software, infrastructureware, dan budgetware untuk membangun satuan siber yang mandiri dan berkelanjutan.

Bobby menekankan bahwa pembentukan Matra Siber TNI tidak hanya urusan militer, tetapi keputusan strategis yang harus dilengkapi dengan pembaruan regulasi, penguatan BSSN, dan kerja sama internasional. Tanpa ini, Indonesia masih rentan terhadap serangan siber. Dalam Perang modern, senjata terkuat bukan hanya tank atau pesawat, tetapi kode program. Oleh karena itu, TNI perlu memiliki satuan siber sebagai pelindung digital negara.

Perubahan teknologi telah mengubah cara perang, dan Indonesia harus siap menghadapi tantangan ini dengan strategi yang komprehensif. Pembentukan Matra Siber TNI bukan hanya tentang pertahanan, tetapi juga tentang menjaga kedaulatan dan keamanan bangsa di era digital. Saat dunia beralih ke medan perang siber, Indonesia harus bersiap dengan satuan yang dapat melindungi negara dari ancaman digital yang semakin rumit dan berbahaya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan