Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Jantung di Indonesia Dorong oleh Wakil Ketua MPR

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Lestari Moerdijat, wakil Ketua MPR RI, menekankan bahwa sistem pelayanan kesehatan jantung di Indonesia perlu segera diperbaiki. Menurutnya, penyakit jantung tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga memengaruhi aspek ekonomi dan sosial.

Data BPJS tahun 2022 menunjukkan bahwa biaya pengobatan penyakit jantung dan pembuluh darah mengonsumsi hampir setengah dari total biaya pelayanan kesehatan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Rerie dalam diskusi daring yang berjudul Penguatan SDM dan Fasilitas Pengobatan Penyakit Jantung di Indonesia, bagian dari Forum Diskusi Denpasar 12. Acara tersebut menghadirkan narasumber seperti Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes dr. Obrin Parulian, Analis BPJS Kesehatan Gregorius Virgianto, dan Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia Annisa Pohan Yudhoyono.

Rerie juga menyebut bahwa Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada 29 September ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan jantung dan mencegah penyakit kardiovaskular.

Menurut Rerie, penyakit jantung di Indonesia belum sepenuhnya ditangani dengan baik. Hal ini karena kasus penyakit kardiovaskular terus naik, sementara akses masyarakat terhadap perawatan yang memadai masih terbatas. Selain itu, upaya pencegahan melalui edukasi publik juga perlu diperkuat.

Data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa Indonesia mencatat 651.481 kematian akibat penyakit kardiovaskular pada 2019. Hal ini mendorong perluasan komitmen pemerintah dalam memperbaiki pelayanan kesehatan jantung dan memajukan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan amanat UUD 1945.

Rerie juga mengapresiasi upaya Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dalam mengedukasi masyarakat tentang kesehatan jantung. Dia juga menekankan bahwa sistem layanan kesehatan perlu dioptimalkan untuk menangani penyakit tidak menular dan membangun tenaga kesehatan yang siap menghadapi tantangan saat ini.

Satu dari tiga kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit jantung, kata Annisa Pohan Yudhoyono, Ketua Umum YJI. Padahal, penyakit ini bisa disembuhkan jika dideteksi dini. Namun, tantangan utamanya adalah biaya pengobatan yang tinggi, terutama bagi pasien muda. Data tahun 2023 mencatat 140.206 penduduk usia 25-34 tahun terdiagnosa dengan penyakit jantung.

Annisa menegaskan bahwa literasi kesehatan jantung harus ditingkatkan, serta peningkatan akses fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang kompetен. Selain itu, Cashtri Meher dari DPP Partai NasDem juga mengemukakan pentingnya memperbaiki akses layanan kesehatan dan mempersingkat tahapan administrasi.

Wartawan Saur Hutabarat menambahkan, penyakit jantung bisa dicegah dengan langkah preventif sederhana, seperti menggunakan tangga dengan stiker “Naik Tangga Baik untuk Jantung” di tempat umum.

Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes, dr. Obrin Parulian, mengungkapkan bahwa penyakit kardiovaskular semakin memerlukan biaya yang besar. Masalah utamanya adalah akses masyarakat ke fasilitas kesehatan, terutama di daerah perbatasan dan kepulauan. Selain itu, masih terdapat ketidakseimbangan dalam penyebaran dokter spesialis jantung dan alat medis di berbagai wilayah.

Hingga saat ini, hanya 2.009 dokter spesialis jantung tersedia, padahal dibutuhkan 6.512 untuk melayani pasien secara optimal. Obrin menyoroti bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan akses layanan kesehatan jantung dengan memperbaiki infrastruktur di berbagai daerah.

Gregorius Virgianto dari BPJS Kesehatan mengungkapkan bahwa per 31 Juli 2025, kepesertaan JKN mencapai 280,7 juta orang. Rata-rata, setiap tahun tercatat peningkatan 500 ribu peserta JKN untuk pengobatan penyakit jantung. Pada 2024, pembiayaan pengobatan penyakit jantung mencapai Rp19,2 triliun dari total Rp37 triliun untuk penyakit katastropik.

Masyarakat perlu lebih proaktif dalam menjaga kesehatan jantung dengan mengikuti gaya hidup sehat dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Peningkatan kesadaran dan dukungan dari pemerintah serta pihak terkait akan membantu mengurangi beban penyakit jantung di Indonesia.

Kesehatan jantung bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga komitmen kolektif untuk membangun sistem yang lebih baik. Dengan apresiasi yang lebih besar terhadap pentingnya pencegahan dan penanganan dini, kita bisa mengurangi dampak penyakit jantung pada masyarakat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan