Membaca1984 di 2026: Mengaji Kekuasaan, Penggunaan Bahasa, dan Kebenaran dalam Era Digital

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dari umur 42 tahun, seorang pembaca menemukan itu tidak biasa ketika menyelesaikan novel 1984 karya Orwell. Nah, untuk Orwell, angka itu mewakili masa depan korupsi, sedangkan untuk pembacanya, ini adalah awal kehidupan yang bermakna. Membaca novel ini seperti berdiri di titik temu tiga era: masa lalu ketika Orwell menulis peringatan, masa depan yang dirumuskan, serta masa kini yang penuh kecemasan mirip.

Orwell menulis 1984 saat berusia 43, di dunia yang penuh penipuan politik. Novel ini bukan kelahiran kreatif, melainkan peringatan tentang gejala kontrol total. Pengalaman positif Orwell tentang propagandra dan kesimpulan kebenaran mendorong keraguan besar: bagaimana jika manusia tidak lagi bisa membedakan apa yang benar? Pertanyaan ini menjadikan 1984 tetap relevan hingga saat ini.

Winston Smith, tokoh utama, membangun pemberontaknya bukan melalui kekuatan fisik, melainkan dengan menulis catatan haram dan menyukai Julia. Namun, kecenderungan dirinya untuk mencari sekutu membuatnya mudah dipercaya pada O’Brien, yang ternyata menjadi penipu. Keterlambatan Winston pada pengkhianatan bukan karena kebodohan, melainkan karena ia mengingkangkan kemungkinan bahwa semua struktur sosial telah merusak. Di Kamar 101, ia dipaksa mengkhianati Julia untuk menghindari penindasan. Dengan menyerahkan cinta terakhir, Winston tidak hanya kalah, melainkan berubah menjadi orang yang menyukai Big Brother.

O’Brien menjadi simbol ketidakaman. Ia tidak hanya memaksa, melainkan mempersuatkan Winston beriman. Dengan memahami radikalitas Winston, O’Brien berhasil merusak kepercayaan. Ia memanfaatkan kepercayaan untuk menghancurkan keyakinan Alma, memecahkan struktur pikiran. Akhirnya, O’Brien merusak tidak hanya tubuh dan pikiran, tetapi juga cara Winston memahami dunia.

Partai dalam 1984 membangun alat kekuasaan melalui Newspeak dan Doublethink. Newspeak mengurangi kata untuk menghilangkan kemampuan berpikir kritis, seperti penyesuaian yang disajikan Umberto Eco. Doublethink adalah kemampuan menerima dua fakta bertentangan. Slogan “2 + 2 = 5” menunjukkan bagaimana kekuasaan berhasil membuat manusia meragukan dunia nyata. Bahasa bukan lagi alat memahami, melainkan alat memanipulasi.

Slogan Partai “Guerre est la paix, Liberté est l’esclavage, Ignorance est la force” adalah contoh Doublethink. Perang disebut perdamaian, penindasan disebut kebebasan. Ini menunjukkan bagaimana kekuasaan menggunakan bahasa untuk mengubah realitas. Kebenaran tidak lagi ditemukan, melainkan ditentukan.

Novel ini memiliki kekacauan. Orwell terlalu optimis tentang kemungkinan bertarung melawan kekuasaan. Sejarah membuktikan bahwa gerakan sosial bisa mengudah sistem otoriter. Kritik feminist juga relevan: Julia, tokoh utama perempuan, lebih fokus pada aspek pribadi daripada politik. Baca dengan kritis, bukan sebagai sumber ajaran mutlak.

Keberadaan digital mengubah ancaman. Huxley mempertanyakan apakah penguasa masa depan akan mengandalkan penderitaan fisik, melainkan membuat masyarakat mencintai ketidakadilan. Di dunia digital saat ini, orang banyak menyerahkan data pribadi, perhatian diperebutkan algoritma. Tidak ada penindasan fisik, melainkan sistem yang terus memengaruhi pikiran.

Komunikasi pembangunan perlu menjaga keterbukaan. Komunikasi Orwellian menggunakan pembatasan informasi, menyederhanakan masalah, dan memaksa penerimaan narasi resmi. Ancaman bagi pembangunan tidak selalu dari sensor fisik, melainkan dari bahasa kebijakan yang penuh eufemisme.

Akhirnya, pembacanya menyimpulkan bahwa Orwell tidak perkirakan masa depan tepat, tetapi ia mengidentifikasi tren kekuasaan untuk mengendalikan bahasa dan kebenaran. Bagi komunikasi publik, ini relevan. Bagaimana kita menggunakan bahasa untuk membantu publik memahami kompleksitas, atau justru menyederhanakan untuk kepentingan tertentu?

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan