Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya: Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Cegah Kejahatan Seksual di Sekolah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

“Perilaku seksual berisiko di kalangan remaja tetap menjadi masalah kritis di Indonesia. Meskipun teknologi mempercepat akses informasi, remaja sering menghadapi tantangan dalam mengelola risiko yang terkait dengan kehidupan sosial dan emosional mereka. Sebagai bagian dari Tanggung Jawab Dosen di Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, tim pengabdian masyarakat mengemban tugasnya melalui aktivitas edukasi yang langsung berinteraksi dengan masyarakat.”

Tim ini terdiri dari tiga dosen dan tiga mahasiswa yang fokus pada SMP Negeri 9 Tasikmalaya. Aktivitasnya dimulai pada 18-19 Juni 2026, dimana pengabdian pertama dilakukan pada 18 Juli 2026 dengan edukasi bagi pengurus OSIS. Selanjutnya, pada 19 Juli 2026, pengurus OSIS menyebarkan pesan tersebut kepada teman-temannya.

Dr. Peni Cahyati, sebagai pengawal, menjelaskan bahwa masa remaja adalah periode transisi yang penuh perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Di tengah kemudahan informasi melalui internet, remaja sering ketergantung pada data yang tidak selalu akurat atau penuh kontekstual. “Fenomena ini semakin kompleks di kota seperti Tasikmalaya, di mana akses digital tinggi tetapi literasi kesehatan masih terbatas,” kata ia.

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku seksual remaja mencakup usia pubertas, pengawasan orang tua, serta tingkat kesadaran terhadap kesehatan reproduksi. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan dan dukungan keluarga adalah penyebab utama risiko perilaku tidak sehat.

Sebagai solusi, aktivitas ini tidak hanya memberikan pengetahuan tata cara, tetapi juga melibatkan pengurus OSIS sebagai penyasar. Dengan pendekatan yang interaktif, harap mengurangi mitos-mito yang mengacaukan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.”

Data riset terbaru menunjukkan bahwa remaja di perkotaan lebih rentan terhadap risiko perilaku seksual karena banyaknya akses informasi digital. Namun, banyaknya platform edukasi online yang tidak teratur memicu ketidakpastian. Studi kasus di beberapa wilayah menunjukkan bahwa program edukasi yang melibatkan keluarga dan sekolah berhasil mengurangi risiko hingga 40% dalam dua tahun.

Panel diskusi dengan pengurus OSIS mengungkapkan bahwa kebijakan pendampingan dari orang tua dan sekolah sangat penting. Mereka menyarankan penggunaan media sosial sebagai media edukasi yang interaktif, bukan hanya sebagai sumber informasi pasif.

Masa depan kesehatan reproduksi remaja memerlukan kolaborasi antarparti. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus bekerja sama untuk memberikan dukungan yang konsisten. Dengan pendekatan yang holistik, remaja bisa mengelola risiko dengan lebih cerdas dan bertanggung jawab.”

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan