Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya: Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Cegah Kejahatan Seksual di Sekolah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Perilaku sexual berisiko di kalangan remaja masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan dan pendidikan di Indonesia. Meski perkembangan teknologi dan akses informasi semakin cepat, generasi muda menghadapi berbagai peluang sekaligus ancaman yang memengaruhi perkembangan mereka secara holistik.

Sebagai bagian dari Tiga Dharma Perguruan Tinggi, Dosen dari Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya memenuhi kewajiban pengabdian masyarakat. Tim pengabdian melibatkan tiga dosen, yaitu Dr Peni Cahyati SKp MKes, Dr Tetet Kartilah SKp MKes, serta Sofia Februanti SKep Ns MKep, yang didukung tiga mahasiswa dari program studi sarjana terapan. Mereka memilih SMA Negeri 9 Tasikmalaya sebagai partner pengabdian.

Kegiatan pelaksanaan berlangsung Kamis-Jumat, 18-19 Juni 2026. Pada Kamis, tim mengedukasi kepada pengurus OSIS. Di sisi lain, Jumat, pengurus menyampaikan pesan tersebut kepada teman-temannya.

Dr Peni Cahyati SKp MKes menekankan bahwa masa remaja adalah periode transisi yang disertai perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Fasa ini sering terarah oleh rasa ingin tahu tinggi, termasuk terkait isu seksualitas. Namun, tanpa pengetahuan yang tepat dan dukungan baik dari keluarga, risiko perilaku sexual tidak sehat meningkat.

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku sexual remaja meliputi usia pubertas, pengawasan orang tua, jenis kelamin, serta tingkat kesadaran dan sikap terhadap kesehatan reproduksi. Pengetahuan rendah dan kontrol atau dukungan orang tua yang lemah menjadi penyebab utama risiko tersebut.

“Fenomena ini semakin kompleks di kota-kota seperti Tasikmalaya. Remaja saat ini memiliki akses luas ke informasi melalui internet dan media sosial. Namun, akses informasi yang tinggi tidak selalu disertai kemampuan literasi kesehatan yang memadai,” kata pensyarat.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa di Indonesia, 65% remaja usia 15-24 tahun belum memiliki pengetahuan mendalam tentang kondom atau pencegahan HIV/AIDS. Studi kasus dari Yogyakarta mengungkap program sekolah yang mengurangi risiko perilaku seksual sebesar 40% melalui kampanye edukasi digital.

Analisis menunjukkan bahwa integrasi teknologi dengan edukasi kesehatan reproduksi bisa menjadi solusi inovatif. Nah, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi antarlembaga dan pembelajaran interaktif adalah kunci untuk melindungi generasi muda dari ancaman yang tidak diinginkan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan