Pesantren Al-Muchtar di Tasikmalaya Mencakap Terpengaruh oleh Proyek BBWS Citanduy yang Menyebabkan Kesulitan Air Bersih

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pendapat Ustadz Ajeb Singarani tentang masalah air bersih di pesantren Al-Muchtar Singarani digundakan melalui pengaduan via TikTok. Proyek normalisasi sungai Cikunten oleh BBWS Citanduy secara sementara menghentikan aliran air menuju pesantren. Hal ini memicu keterbatasan akses air untuk kebutuhan mandi, cuci, wudu, serta pengolahan ikan. Santri terpaksa menunggu hingga malam untuk memenuhi kebutuhan wajib.

Pendapat pengurus pesantren menekankan bahwa pengambilan langkah kuasa telah dilakukan melalui dialog langsung dengan BBWS. Meski telah berusaha menciptakan solusi, hingga saat ini belum ada perencanaan konkret untuk memperbaiki aliran air. Ketergantungan pada sumur serapan dan distribusi terbatas dari DKM menjadi solusi sementara yang tidak memadai.

Masalah ini menjadi kekhawatiran karena memengaruhi aktivitas spiritual dan olahraga pesantren. Pengumuman Ustadz Ajeb mencerminkan ketegangan antara pembangunan strategis dan kebutuhan dasar masyarakat. BBWS diminta untuk mempertimbangkan dampak proyek terhadap kepentingan sosial, terutama bagi lembaga pendidikan yang tidak boleh diabaikan dalam proses pengelolaan sumberdaya.

Studi kasus di daerah lain menunjukkan bahwa konflik pengelolaan air sering terjadi ketika proyek infrastruktur tidak melibatkan partisipasi komunitas. Contohnya, penanganan sungai di Jawa Barat yang menggunakan pendekatan konsultatif berhasil mengurangi ketimpangan akses air. Hal serupa bisa diaplikasikan di pesantren Singarani untuk menjaga keseimbangan proyek dan hak masyarakat.

Pembelihan dukungan dari pemerintah atau lembaga relevan diperlukan untuk mengembangkan sistem pelanggan air yang lebih terorganisasi. Pemikiran inovatif seperti pemanfaatan air hujan atau sistem pemantauan aliran air bisa menjadi solusi alternatif. Kinerja BBWS dalam menjawab keluhan pesantren menjadi wujud accountability terhadap masyarakat.

Kesadaran akan dampak proyek seperti ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga pengusaha dan komunitas yang berkepentingan. Penyelesaian harus memastikan bahwa pembangunan tidak merusak kesejahteraan umum. Kebutuhan air bersih harus tetap menjadi prioritas, terutama bagi institution yang menjadi pusat aktivitas spiritual dan pendidikan.

Pengalaman pesantren Al-Muchtar Singarani menjadi pengingat bahwa pembangunan harus diadaptasi dengan realitanya. Jika tidak diatasi, problematik ini bisa memicu ketimpangan sosial yang lebih luas. Semua pihak harus bekerja sama untuk menjamin akses kebutuhan dasar tanpa mengorbankan proyek strategis.

Solusi yang efektif memerlukan kolaborasi antarparti dan transparansi dalam pengelolaan sumber air. Pesantren juga dapat menjadi model bagi komunitas lain dalam mengakui dampak proyek terhadap kehidupan harian. Keseluruhan masyarakat harus tetap berani mengajukan keluhan untuk menghindari konflik yang tidak perlu.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan