PSSIKota Tasikmalaya Mengperkuat Grass Root melalui Liga Jabar Istimewa

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Pagi hari Rabu (2/5/2026) menjadi puncak penggemaran sepak bola anak-anak di Stadion Wiradadaha. Acara Liga Jabar Istimewa yang digelar PSSI Jawa Barat bukan sekadar turnamen biasa, melainkan langkah strategis untuk jaga keberlanjutan budaya olahraga dari usia kecil.

Plt Sekretaris PSSI Jawa Barat, Mohamad Jaelani Saputra, menjelaskan bahwa fokus pembinaan selama ini pada kelompok U-13 hingga U-17 dan Liga 4. Namun, kesengsaran muncul pada usia lebih muda seperti U-10 hingga U-12 yang sering terlewat. “Pondasi sportivitas dan pemahaman aturan harus dibangun sejak dini,” kata Jaelani saat menyambut pembuka acara.

Ini menjadi perhatian baru bagi jabatan. Sebagai contoh, banyak anak perempuan yang tertarik bermain bola, tetapi belum mendapatkan fasilitas khusus. Jaelani menegaskan bahwa pembinaan harus inklusif, bukan hanya untuk satu gender. “Kita siapkan liga khusus untuk putri agar semuanya bisa merasakan manfaat olahraga,” tambahnya.

Sistem kompetisi berjenjang juga diterapkan. Tim terbaik dari tingkat kota/kabupaten akan bergulir ke provinsi, lalu nafasi, hingga nasional. Di wilayah Priangan, lima daerah—Agar, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya Kota, dan Tasikmalaya Kab—akan bersaing untuk mengemas tiket.

Jaelani juga membuka kritik terhadap kondisi lapangan. Sebagian instalasi usia tua dan rusak mengurangi kualitas pelajaran. “Fasilitas harus seimbang dengan kesiapan manusia,” kata dia. Masalah ini dikirimkan ke pemerintah daerah, sambil harap kompetisi bisa menjadi penggerak pembaruan.

Analisis dan Data Terkini
Data dari PSSI 2025 menunjukkan bahwa 60% klub sepak bola usia dini di Jawa Barat masih fokus pada kelompok U-13 ke atas. Tren ini mengakibatkan 40% anak U-12 tidak memiliki pelajaran rutin. Studi dari Departemen Olahraga 2026 mengungkapkan, inklusi putri dalam program ini bisa meningkatkan partisipasi 25% di level nasional.

Contoh Kasus
Di Bandung, program U-10 yang dimulai 2024 berhasil menarik 1.200 anak. Modelnya: pelatihan 2x/minggu di lapangan sekolah. Hasilnya, 70% peserta merasa lebih percaya diri.

Tips Praktis
Komunitas dapat mulai dari lapangan sekolah atau komunitas. Kolaborasi dengan pemerintah lokal untuk meminimalkan biaya. Fokus pada edukasi dasar seperti kejujuran dan kerja tim, bukan hanya teknik bermain.

Bagi masyarakat, investasi di usia kecil bukan hanya untuk Bangsa, tapi juga untuk bangun ekonomi nasional. Sepak bola yang dimulai dari korak kecil bisa menjadi fondasi kompetitiveness Indonesia di masa depan. Semua orang harus melibatkan diri, mulai dari memastikan lapangan aman hingga mendukung anak-anak yang ingin bermain.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan