Pabrik olahankelapa di Pangandaran diduga mencemari sungai, sehingga warga berkepanikan.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Penduduk di Desa Sukaresik, Kelurahan Sidamulih, mengungkapkan masalah pencemaran sungai di sekitarnya. Diduga, penyebab itu berasal dari aktivitas perusahaan pengolahan kelapa PT Pecu. Air sungai mengalami perubahan warna menjadi gelap dan menyala, berserta bau yang menggoda perasaan.

Saiman, seorang warga, menyatakan kondisi sungai saat ini sangat memungkinkan. Sungai Citonjong terlihat keruh, dengan warna kehitaman dan aroma yang tidak enak, terutama di wilayah yang dipandang sebagai lokasi masuk limbah. “Kalau tidak diperbaiki, dampaknya akan semakin membesar,” menegaskan Saiman kepada Radar Jumat (24/6/2026).

Saiman mengkhawatirkan dampak lingkungan jangka panjang. Pencemaran bisa menyebabkan ikan dan hewan air berkuat, mirip peristiwa sebelumnya. “Saat itu, banyak ikan dan hewan air yang mati akibat limbah masuk sungai,” ujarnya.

Pemutusan tersebut menyatakan kebutuhan pengelolaan limbah yang lebih terukur. “Barang-bringan yang mengeluarkan limbah harus memperbaiki sistemnya, agar tidak merugikan masyarakat,” kata Saiman.

Pengawasan yang lebih ketat menjadi solusi. Saiman menganggarakan regulasi yang lebih ketat untuk mencegah ulangan. “Kualitas air bukan hanya untuk ekologi, tetapi juga kesehatan masyarakat sekitar,” menambahkan ia.

Data terbaru menunjukkan risiko kesehatan masyarakat. Studi lokal menunjukkan korelaasi antara pencemaran air dan masalah pencemaran tubuh di segeliling sungai. “Pencemaran limbah bisa memicu penyakit pernapasan atau kulit,” sebabkan analisis ini.

Studi kasus di daerah lain menunjukkan solusi alternatif. Wilayah yang berintervensi pemerintah dengan sistem pengelolaan limbah terstruktur berhasil mengurangi pencemaran. Infografis menunjukkan pengaruh limbah pabrik terhadap kualitas air dalam 3 bulan.

Sungai sebagai sumber hidup harus dinjagakan bersih. Saiman meminta perusahaan untuk bertanggung jawab secara berbenar. “Jangan sampai semacam ini mengarahkan kesejahteraan masyarakat ke arah yang tidak sebaiknya,” katanya.

Dampak lingkungan yang tidak diatur bisa memengaruhi kehidupan terpinggung. Langkah segera diperlukan untuk mencegah kerusakan yang sulit dibalikkan. “Semua orang berpartisipasi dalam menjaga sungai bersih, bukan hanya pabrikan,” menyarankan Saiman.

Terakhir, kolaborasi antara masyarakat dan pengawas menjadi kunci. “Pemilik pabrik dan warga harus berdiskusi untuk solusi yang berkelanjutan,” menegaskan Saiman. Langkah ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi masalah serupa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan