Dramat Sobrat Berhasil Pemeriksaan di Teater 28 Unsil, Sekarang Siap Tayang di Semarang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pentas Drama “Sobrat” Teater 28 Berlangsung di Garut
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater 28 Unsil menyelenggarakan pameran drama “Sobrat” karya Arthur S Nalan di Padepokan Seni Sobarnas Martawijaya, Tarogong Kaler, Garut. Event ini berlangsung pada 24 April 2026, setelah tata tata dulu di Gedung Kesenian Tasikmalaya selama tiga hari.

Pameran ini tidak hanya menyoroti peran aktor, tetapi juga menyediakan platform untuk diskusi kritis di akhir perawatan. Di ruang diskusi, pendengar-mendengar memberikan feedback yang berguna, terutama terkait pesan sosial yang diungkapkan dalam naskah.

Penonton mayoritas berasal dari masyarakat Seni dan siswa-guru di Garut. Perry Pebrianto, pemimpi, menjelaskan pilihan drama ini terkait dengan isu pertambangan ilegal yang merusak lingkungan. “Drama ini ingin menyoroti dampak bencana banjir atau longsor akibat penambangan tak terkontrol,” kata ia.

Naskah juga menggabungkan tema cinta dan kesombongan manusia. Pebrianto menekankan pentingnya peduli terhadap lingkungan, bahkan untuk orang yang kaya. “Jangan lupa asal-usul, karena keberanian tak menjamin keamanan,” ia menyampaikan.

Alasan memilih Garut sebagai lokasi pentas keliling adalah karena potensi seni yang tinggi di daerah tersebut. Peran ini juga bertujuan menyuntik semangat seni kepada siswa sekolah dasar.

Setelah Garut, Teater 28 akan mengajukan “Sobrat” di Semarang pada 29 April 2026.

Data Terkini: Dampak Pertambangan ilegal
Studi recent menunjukkan bahwa 60% dari bencana banjir di Indonesia terkait aktivitas pertambangan ilegal. Di Garut, proyek pameran ini menjadi salah satu upaya untuk memicu kesadaran masyarakat.

Kesan Pameran Teater 28
Pameran “Sobrat” menarik lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah. Feedback penonton menunjukkan peningkatan minat kuliner terhadap seni, terutama di sekolah-dasa.

Panggilan Akhir
Pameran seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi kesempatan untuk refleksi. Semoga dramanya menjadi catu di hati, mengingatkan kita untuk berani berani memperbaiki kekacauan di sekitar kita. Setiap naskah adalah peluang untuk berubah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan