Penggunaan Dapur Warga sebagai Solusi Penanganan Sampah di Tasikmalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kota Tasikmalaya menghadapi tantangan sampah yang tak teratur, namun solusi muncul dari konsep sederhana: dapur rumah tangga. Di Kelurahan Panglayungan, Jalan Kapten Naseh, Deviani menginisi program Eco Enzyme dan Kompos, bukan sebagai acara formal, tapi melalui praktik langsung. Warga diajak mengubah pandangan tentang sampah—bukan hanya dibuang, tapi diolah menjadi nilai baru.

Praktiknya fokus pada penyortiran sampah sejak sumber. Sampah organik diubah jadi kompos atau eco enzyme, sementara anorganik dikirim ke bank sampah. Hasilnya idealnya hanya sisa limbah residu yang minimal. Devi, penyelenggaraan, menekankan pentingnya bahan baku segar dan bersih untuk fermentasi eco enzyme, yang memakan waktu hingga tiga bulan. Produknya multifungsi, bisa jadi pembersih alami atau bahan pertanian.

Feri Arif Maulana, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, mengakui bahwa penyelesaian mulai dari rumah tangga. Mayoritas sampah di Tasikmalaya masih organik atau anorganik, yang jika dikelola dengan benar, bisa didaur ulang. Masalah utama bukan jumlah sampah, tapi cara mengelola.

Pemrogram ini menunjukkan cara praktis mengelola lingkungan. Dengan mengembangkan kesadaran di tingkat keluarga, sampah organik bisa diubah menjadi sumber, bukan sampah. Metode ini tidak hanya mengurangi limbah, tapi juga mengenasikan nilai lingkungan.

Setelah ini, setiap rumah bisa menjadi laboratorium kecil untuk mengelola lingkungan. Langkah kecil seperti ini bisa berubah menjadi gaya hidup, menjadikan sampah sebagai sumber, bukan masalah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan