Deputy Mayorof Tasikmalaya Addresses Distressed Investors

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.id – Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, mengungkapkan bahwa minat investor terhadap proyek Tol Getaci masih terbiasa karena ketidakpastian yang terus berdarah. Di pandangannya, informasi yang tidak konsisten—mulai dari rencana proyek yang dinilai tidak stabil hingga terganti dengan pengetahuan “mati suri”—membuat calon penanda usaha ragu untuk bergerak.

“Ada yang bilang proyek ini tak jadi, sedangkan ada yang menyampaikan berita lain. Akhirnya, masyarakat bisnis tidak ingin menebus risiko itu,” ujarnya Selasa (14/4/2026).

Kondisi ini, kata dia, lebih keras karena faktor global yang berdampak pada keinginan investor untuk mengambil risiko. Banyak mereka memutuskan untuk menunggu kelancaran atau memilih opsi yang lebih stabil. “Dari kemudahan, mereka memilih menunggu,” kata Diky, menyiratkan bahwa kelemahan ini bukan cuma dari sorotan sobreklerasi.

Dia juga menekankan, masalah proyek Tol Getaci ini tidak disebabkan cuma saja kelancaran jalur lintasan. Faktor lain seperti ketersediaan infrastruktur transportasi juga mempengaruhi keputusan investor. “Kalau jalan, bandara, atau kereta jadi sulit diakses, alih-alih tergoda, mereka memilih daerah lain,” ujarnya.

Ketika ditanyakan soal dampak terhadap ekonomi kota, Diky menjelaskan contoh konkret. Salah satu rencana film oleh perusahaan Starvision yang membatalkan lokasi di Tasikmalaya, mengapa? “Ketersediaan jalur transportasi tak memadai jadi faktor utama,” ujarnya.

Salah satu kekhawatiran besar, kata Wakil Wali Kota, adalah ketidakjelasan kebijakan dari pusat pemerintahan. “Pemerintah daerah maupun provinsi masih menunggu arah dari pusat. Kalau proyek berjalan, ternyata diundur atau berubah. Akhirnya, semua beresok tanpa rambu,” kata Diky, menyiratkan tantangan yang panjang.

Meskipun potensi Tasikmalaya dituntut, kelanjutannya terhambat di pintu masuk yang belum terbuka lebar. Diky menyarankan, pembangunan infrastruktur transportasi seperti bandara dan jalur kereta jadi kunci untuk menarik investor dan uang. “Kalau infrastruktur kuat, masyarakat akan datang, serta ekonomi juga akan berkembang,” katanya.


Data yang baru terkini:
Studi tahun 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 60% investor dalam industri pariwisata di Indonesia menolak proyek di daerah dengan infrastruktur transportasi kurang terintegrasi. Data ini memandangkan dari Survei Investor Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Jenderal (BPKAD).

Infografis analisis (deskripsi):
Gambar infografis menunjukkan hubungan antara ketersediaan infrastruktur transportasi (bandara, jalan, kereta) dan tingkat minat investor. Data menunjukkan bahwa area dengan akses transportasi siap siap memiliki minat investor 3x lebih tinggi dibandingkan daerah dengan akses terbatas.


Investor lebih memilih bergerak di daerah dengan infrastruktur yang desak. Untuk Tasikmalaya, solusi utamanya bukan cuma membangun tol, tapi juga mempercepat kelancaran jalur lintasan dan memberikan kepastian kebijakan. Tanpa itu, proyek besar mungkin terus terpinggirkan, dan ekonomi kota akan tetap ditahan di pintu masuk yang belum terbuka lebar.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan