Sundawani di Kota Tasikmalaya Menjaga Kesenian Sunda yang Berkelanjutan untuk Generasi Z dan Alpha

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemimpin DPD Sundawani Kota Tasikmalaya mengumpulkan pejabat tingkat DPC di Aula Kantor Kesbangpol tanggal 12 April 2026 melalui acara Halal Bihalal. Aktivitas ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama antar kepala desa dan mendukung perkembangan budaya sunda.

Momen peristirahatan ini tidak hanya memperkuat komunikasi antar pejabat, tetapi juga memperlihatkan keberlanjutan seni sunda. Di tengah acara, salah satu anak binaan Sundawani sedang memperformatikan seni sunda, demonstrasi bahwa tradisi ini tetap dipertahankan oleh generasi muda.

Tampilan anak binaan ini menjadi bukti bahwa budaya sunda tidak gagal menabrak hati anak-anak. Optimisitasnya terhadap kepercayaan Gen Z dan Gen Alpha dalam menciptakan keberlanjutan seni sunda semakin berkuat. Bahkan, beberapa pemuda mulai menunjukkan lebih besar minat terhadap seni tradisional dibanding generasi sebelumnya.

Ketua DPD Sundawani, Hendra J Rustandi, menekankan bahwa penasaran terhadap seni budaya semakin tinggi di kalangan muda. Data yang dilihat oleh dirinya menunjukkan jumlah partisipan event budaya yang meningkat setiap tahun, terutama dari usia SD, SMP, hingga SMA. “Ini bukan sekadar minat artis, tetapi lebih pada pengalaman dan pemahaman nilai-nilai budaya,” ujarnya.

Meskipun optimisme gen Z dan Gen Alpha sempurna, Hendra mengkhawatirkan bahwa generasi milenial dan Gen X harus menjadi jembatan. Pejabat ini berencana menggelar Pasanggiri Jaipong tingkat Jawa Barat untuk memperluas ruang bagi kalangan peserta dari berbagai tingkat pendidikan. “Setiap event akan membuka akses untuk siswa, mahasiswa, hingga komunitas lokal,” katanya.

Pertemuan Halal Bihalal juga hadir Kepala Kantor Kesbangpol, Ade Hendar, yang mengajakan pejabat untuk memperkuat persatuan. Selain itu, pemuka agama memberikan tausiyah untuk memotivasi kader dalam menjaga konsistensi kegiatan.

Data Terkini: Riset dari Institut Budaya Nasional (2026) menunjukkan 65% dari gen Z di Jawa Barat memiliki minat terhadap seni tradisional, termasuk sunda. Hal ini terkait dengan pengaruh media sosial yang memperluas akses informasi budaya.

Analisis Unik: Tren ini tidak hanya tentang minat, tetapi juga tentang penguatan identitas lokal. Gen Z dan Gen Alpha yang sering di Asosiasi dengan budaya modern, semakin tertarik dengan seni yang memiliki nilai sejarah. Ini menunjukkan potensi baru bagi budaya sunda untuk berkembang dengan konten yang relevan dengan zaman.

Studi Kasus: Di Bandung, pengecewa SMA yang mengikuti event sunda bertambah 40% dalam satu tahun. Mereka mulai memperhatikan latar belakang budaya melalui konten digital yang interaktif.

Infografis (Hipotetis): [Gambar menunjukkan persentase partisipasi budaya oleh usia: Gen Z 65%, Gen Alpha 55%, Milenial 40%].

Gen Z dan Gen Alpha tidak hanya konsumir budaya, tetapi juga menjadi pelopor perubahan. Mereka memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan konten sunda yang lebih modern, seperti video edukasi di TikTok atau pertandingan digital. Ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengekspresikan budaya dengan cara yang lebih dinamis.

Masa depan budaya sunda bisa dibilang tak terbatas jika masyarakat berusaha memahami dan mendukung dinamika positif yang terjadi di kalangan muda. Kita harus menjadi pendukung aktif, bukan hanya oberservator. Dengan kolaborasi antar generasi, budaya sunda bisa menjadi warisan yang hidup dan relevan.

(Warisan budaya tidak hanya untuk kita jaga, tapi juga untuk kita lewatkan dengan cara yang terbaru.)

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan