Dua SPPG di Tasikmalaya Di Suspend, Air Tercemar Jadi Biang Keladi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Program MakanBergizi Gratis (MBG) di Tasikmalaya masih dalam fase pengembangan yang memakan waktu. Banyak dapur penyedia hanya memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan kualitas operasional terganggu oleh keterbatasan standar. Dua SPPG terpanggul dari dunia operasional sementara karena lupa memenuhi persyaratan SLHS, yang menjadi persyaratan wajib untuk beroperasi.

Penegakan syarat tersebut belum sempena, meskipun 86 dari 115 SPPG telah mengajukan sertifikasi. Namun, hanya 54 unit yang lolos evaluasi. Masalah ini tergantung pada aspek administrasi, seperti alur distribusi makanan yang tidak teratur, serta ketersediaan fasilitas seperti mencuci tangan dan tempat menyimpan makanan.

Sumber air menjadi faktor kritis yang sering diabaikan. Beberapa dapur menggunakan air yang mengandung bakteri berbahaya, meskipun air sudah diolah beberapa kali. Kejadian ini menyiratkan ketidakjelasan sistem penanganan bahan utama. Sebagai solusi sementara, Dinas Kesehatan menyarankan penggunaan air galon, meskipun ini meningkatkan biaya operasional dan mengurangi efisiensi.

Implementasi MBG di Tasikmalaya memerlukan penguatan lebih lanjut, bukan hanya dalam jumlah dapur, tapi dalam kualitas pengelolaan. Setiap piring makanan harus dirasakan aman sebelum dikonsumsi. Tantangan ini menjadi pengingat bahwa kebijakan sosial harus diimbangi dengan ketatnya standar kesehatan.

Program ini membuka peluang untuk belajar bahwa keberhasilan proyek sosial bergantung pada ketelitian dalam memprioritaskan aspek yang sering dianggap banal. Tanpa pengelolaan yang tepat, meskipun dukungan besar, hasilnya akan terbatas.

Pemerintah dan masyarakat harus menyambut MBG dengan fokus pada detail. Investasi pada infrastruktur dasar seperti ketersediaan air bersih dan pelatihan petugas menjadi kunci. Hanya begitu program ini bisa berubah menjadi solusi berkelanjutan yang efektif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan