Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, masih menjaga karakter yang familiar meski berubah peran. Ia tetap adalah Diky yang dulu hidup dalam lingkungan hiburan, yang ragu-ragu dengan kamera, dan terutama yang setia dengan wartewan. Setiap siang hari, ia berdiri di acara sematah tanpa ketimpangan protokol. Ia turun dari mobil dinasnya dengan nada santai seperti dulu.
Paragraf yang berisi kutipan tidak berubah. Namun, konteksnya ditulis ulang: “Lanjut Baca” diserulkan dengan tautan yang tetap sama. Ia tiba-tiba mendekat ke tukang kopi di jalan. Nonstop, ia memesan. Tergantung kebutuhan wartewan, bukan kebutuhannya sendiri.
Kesamaan wartewan yang tertawa terlihat jelas. Mereka menyambut dengan senyum yang mengerti. Mereka tahu Diky bukan pejabat yang jernih dalam jarak. Ia masih Diky yang sempat main-main dengan ganteng.
Momen tensi muncul ketika semua selesai. Saat Diky berencana pulang, kacau tiba-tiba tergiat. Bukan dari warga atau panitia, tapi dari seorang wartewan yang berusia. Pertanyaannya sederhana: uang. Diky tergoda bertanya apakah kopi sudah bayar. Tapi permintaan berubah. Wartewan minta uang tunai.
Diky merasa terjerit. Emosinya melonjak. Ia tidak melanjutkan konflik. Langkah cerdas, ia menyembunyikan kendala itu. Ia meninggalkan situasi dengan pikiran yang terasa tidak benar-benar nyata.
Dunia jurnalistik sering menghargai kedekatan dengan narasumber. Tapi Diky menunjukkan bahwa kedekatan tanpa batas bisa menjadi risiko. Profesionalisme bisa terjerit menjadi persoalan pribadi. Peristiwa kecil ini menjadi cermin kecil bagi yang setiap hari mempertahankan identitas “wartewan”.
Setiap jurnal yang ditulis bukan sekadar tentang informasi. Tapi juga tentang etika yang dilatih. Diky menunjukkan bahwa batas antara professionalisme dan personal perlu dijaga dengan cerminan.
Terakhir, Diky kembali ke mobil. Ia tidak mengejar atau menjawab. Langkahnya menunjukkan bahwa tidak semua perasaan harus ditumbuhkan. Manfaatnya lebih besar dari konflik kecil.
Studi terbaru menunjukkan bahwa interaksi langsung antara pejabat dan media dapat meningkatkan transparansi. Namun, jika tidak diatasi, risiko konflik etis meningkat. Contoh Diky menunjukkan bahwa integritas tetap menjadi kunci.
Contoh kasus ini mengingatkan bahwa media bukan sekadar alat informasi. Tapi juga cermin bagi masyarakat. Bagaimana seseorang menjaga batas antara profesionalisme dan personal memengaruhi narasi publik.
Diky tetap Diky. Karakternya tetap tak terubah. Ia tidak tergoda atau terjerit. Peran pejabat tidak menghilangkan identitas orang biasa. Integritasnya tetap menjadi keunggulan.
Pendapat saya mengajukan untuk pejabat: perlahanan adalah kunci. Jangan tergoda untuk membiarkan batas etik tergerus. Jika kita mampu mempertahankan integritas dalam hal kecil, kita juga mampu berdirinya dalam hal besar.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.