Warga Ciamis Memilih Merantau Sebagai Solusi Karena Lapangan Pekerjaan Minim

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ciamis masih menghadapi isu kekurangan lapangan kerja yang mendorong banyak warga melarut ke luar. Menurut data Dinas Ketenagakerjaan, jumlah AK-1 yang dibuat tahun 2026 menunjukkan tren mendesaknya pencari kerja mencari peluang di luar wilayah. Seperti diketahui dari wawancara di Senin (25/5/2026), Dewi, seorang pemula, menuntut penyerapan di industri garmen CGU Handapherang meskipun tidak mengikuti job fair. Alasannya, upah minimum yang masih di bawah Rp 3 juta tidak memungkinkan kesempurnaan pekerjaan di Ciamis.

Kondisi ini juga diukur dari ujaran Dewi yang menyatakan keharapan pembangunan pabrik di daerah. “Ingin kerja di sini, tapi perlu lebih banyak fasilitas,” kata ia. Sedangkan Tedy Tresadi, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja, menguji bahwa mayoritas AK-1 di Dinas Ketenagakerjaan Ciamis dirancang untuk mengejar pekerjaan di luar daerah.

Data ini berarus dari pengamatan langsung di Dinas Ketenagakerjaan, yang mencatat peningkatan jumlah AK-1 tahun 2026. Sebagai solusi, Dewi menyarankan pengembangan kawasan industri lokal. Meskipun belum pasti apakah ia akan ikut job fair 2026, Dewi tetap optimis jika perusahaan langsung menawarkan lowongan.

Tren migrasi pekerjaan ini tidak unik, tetapi Ciamis memiliki peluang untuk menguranginya. Meskipun upah saat ini terbatas, pembangunan industri garmen atau pabrik kecil dapat menjadi solusi jangka panjang. Warga lain mungkin pun berbalik ke desa mereka jika dapat diperoleh gaji yang memadai.

Ciamis mesti mempertimbangkan strategi yang lebih praktis untuk menarik industri. Fokus pada kelayakan investasi atau pembangunan kolaborasi dengan daerah terdekat bisa menjadi langkah awal. Dengan pendekatan inovatif, masyarakat bisa memilih bekerja di Ciamis tanpa harus menghadapi badai ekonomi di luar kota.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan