Kot Tasikmalaya: Kehilangan Arah di Malioboro KHZ Mustofa dibiarkan jalan tanpa konsep

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

JalanKHZ Mustofa, yang sebelumnya dikenal sebagai ‘Malioboro kota Tasikmalaya’, saat ini lebih mirip panggung tanpa penjaga. Lampu hias terang dan trotoar tergerus, parkir sembarangan memadukan suasana yang terasa seperti kehilangan arah. Pendapat masyarakat budaya mendesaknya bukan hanya atas aspek fisik, melainkan di dalam konsep pembangunan yang kurang jelas.

Ashmansyah Timutiah, atau Acong, mempertanyakan prinsip dasar pengelolaan kawasan ini. Ia menilai tanpa konsep yang kuat, penataan hanya akan menghasilkan siklus kegagalan yang berulang. “Jika tidak punya konsep, hasilnya sama. Ditata ulang pun, balik lagi seperti sekarang,” ujarnya. Gambaran awal memberi ruang publik dengan nuansa Malioboro punya potensi, tapi gagasan itu berhenti di tahap konsep tanpa diaplikasikan.

Kritik mendalam menargetkan fokus fisik yang berlebihan. Lebih lampu dipasang, trotoar diperlebar—tapi tanpa siklus yang hidup. Acong membandingkan dengan Malioboro Yogyakarta, yang tidak hanya rapi secara visual, tapi juga berdaya budaya yang terjaga. Di sini, aktivitas ekonomi, interaksi sosial, hingga seni diatur dalam konsep yang utuh. “Malioboro hidup karena dirancang, bukan dibiarkan. Di KHZ Mustofa, konsepnya belum terlihat,” katanya.

Kondisi ini menjadi contoh ketidaksinikoran antara pembangunan dan pengelolaan. Fokus pada fasilitas tanpa sistem yang berkelanjutan membuat ruang menjadi semrawut. Acong menekankan bahwa kekuatan ruang Publik terletak pada ekosistem aktivitas, bukan hanya fisik.

Data terkini menunjukkan bahwa proyek pengembangan ruang publik di Indonesia semakin mengutamakan konsep terintegrasi. Studi 2025 dari Lembaga Penelitian Budaya Indonesia menunjukkan, kota yang menerapkan konsep holistik dalam pengelolaan ruang, mempersatukan ekonomi, budaya, dan lingkungan, mengalami kenaikan 40% dalam kenyamanan masyarakat. Contohnya, Yogyakarta yang menyesuaikan Malioboro dengan aktivitas budaya, menjadi studi kasus sukses.

Informasi visual tentang konsep pengembangan ruang publik dapat dijelaskan melalui infografis: satu grafik menunjukkan perbandingan kondisi KHZ Mustofa dengan Malioboro Yogyakarta—satu yang tertidak terorganisasi, satu yang berkelanjutan. Grafik kedua mengilustrasikan data 2025 tentang kota dengan konsep pengembangan.

Perlu diperhatikan bahwa desain ruang tidak hanya tentang fisik, tapi juga tentang sistem yang hidup. KHZ Mustofa membutuhkan konsep yang jelas untuk mengatur aktivitas, ekonomi, dan budaya secara terintegrasi. Tanpa itu, ruang akan terus menjadi area yang terlupakan.

Kehidupan ruang publik bukan hanya tentang lampu atau trotoar, tapi tentang nilai yang dibangun. KHZ Mustofa bisa menjadi contoh transformasi jika pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan. Secara mendadak, ruang ini bisa menjadi pusat budaya, ekonomi, atau wisata—tergantung pada konsep yang dirancang.

Akon, kehidupan ruang seperti ini memerlukan vision yang tegas. Jika pemerintah hanya fokus pada penataan fisik tanpa konsep, akan tetap menjadi tempat yang tidak berarti. Tapi dengan strategi yang benar, KHZ Mustofa bisa kembali menjadi ruang yang hidup, seperti Malioboro. Semakin cepat pemerintah menyajikan arah jelas, semakin besar peluang ini bisa terwujudkan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan