Cuaca ekstrim di Tasikmalaya memicu 7 lokasi terendam pohon tumbang.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.id — Pemimpin kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menyatakan terjadinya rencana bencana di beberapa wilayah kota dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem. Bagaimana juga, dorongan angin yang menyusuri area tersebut tidak hanya berupa hujan angin biasa, tapi menunjukkan ciri seperti puting beliung yang memiliki kekuatan destruktif tinggi.

Pendapat ini disampaikan ketika Viman mengawasi lokasi pasca pohon tertumpang di kawasan Stadion Wiradadaha, Kecamatan Tawang, pada Sabtu (28/3/2026). Dalam analisanya, ia menekankan kondisi angin tersebut termasuk anomali yang jarang terjadi, serta berpotensi memengaruhi infrastruktur umum hingga kehidupan warga.

Data yang dikumpulkan pemerintah menunjukkan skala gangguan yang luas dalam waktu singkat. Saat sore 28 Maret 2026, 7 lokasi terdaftar krisis karena pohon tumbang. Di Jalan Mashudi No 75 dan Kedai 77, dan di Akses Jalan Cisapi, Kawalu, pohon tersebut menghalangi gerak. Di Kawalu juga, pohon roboh menembus 2 unit mobil. Jembatan Saptamarga dan Jalan Sutisna Senjaya juga terganggu oleh pohon yang berbalik.

Di Kelurahan Cikalang, salah satu pohon terpinggirkan menipu kolam ikan. Di Purbaratu, beberapa rumah di Kampung Padaasih, Panunggal, dan Silih Asih mengalami kerusakan atap akibat angin. Meskipun demikian, Viman terbukti tidak ada korban jiwa dalam semua situasi.

Pemantauan langsung dilakukan oleh kepala kota untuk memastikan kondisi warga. Salah satu dampak yang merasakan masyarakat adalah pemadaman listrik di Tawang. Namun, oleh karena itu, aliran listrik kembali normal di pagi berikutnya, disertai penggantian tiang yang rusak.

Bencana ini mengingatkan kebutuhan peningkatan ketahanan terhadap cuaca ekstrem. Perencanaan proaktif, seperti pengecekan infrastruktur teratur dan educasi masyarakat, mungkin menjadi solusi untuk mengurangi dampak tươngul.

Masa depan menghadapi cuaca ekstrim memerlukan kerja sama lebih intensif antara pemerintah, masyarakat, dan eksperta iklim. Lebih dari sekadar melindungi infrastruktur, penting juga mempersiapkan diri secara psikologis dan fisik untuk menghadapi ancaman yang tidak bisa diprediksi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan