Sasana Boxing di Rangkul Anak Muda, Tasikmalaya, Tebar Ratusan Takjil di Jalan Raya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Aktivitas sederhana yang punya makna sosial yang kaya muncul di Padayungan, Jalan Perintis Kemerdekaan Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya, Jumat (20/3/2026) sore. Sasana GBC Guncil Boxing Camp menyebarkan ratusan takjil kepada masyarakat yang berjalan, sebelum menghabiskan doa bersama dan membuka puasa di lokasi basecamp mereka.

Kegiatan ini dimulai sekitar jam 17.30 WIB, bukan sekadar rutinitas berbagi di bulan Ramadan. Di baliknya, ada pesan yang lebih mendalam—seperti upaya memanggil generasi muda di Tasikmalaya agar tidak terpeset oleh kebiasaan negatif.

Ujang Kurnia, ketua Sasana GBC Guncil Boxing Camp, menjelaskan langkah-langkahnya. Pertama, distribusi takjil dilakukan di pintu jalan terdepan basecamp. Setelah itu, semua anggotanya berkumpul untuk doa bersama, lalu membuka puasa bersama.

“Pertama kita bagi-bagi takjil di pinggir jalan, kemudian ditutup dengan doa, lalu membuka puasa bersama di tempat kami,” ujarnya.

Kegiatan sosial ini adalah bagian dari komitmen yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Namun, di balik latihan fisik dan latihan boxing, ada misi sosial yang terus dikembangkan.

Ujang menjelaskan, pendirian sasana ini lahir dari kekhawatiran melihat kondisi beberapa generasi muda yang rentan terlibat dalam pergaulan negatif, seperti konsumsi minuman keras atau geng-gengan.

“Kita ingin ngerangkul anak-anak muda, terutama di RT 3 RW 1 Padayungan, Kecamatan Cihideung. Jangan sampai masa depan mereka rusak karena miras atau kebiasaan berantakan,” tegasnya.

Sasana boxing juga menjadi solusi untuk memberikan ruang positif bagi generasi muda. Bukan hanya untuk latihan fisik, tapi juga untuk menyelesaikan energi, mempersikulikan bakat, serta membangun ketangguhan.

Di tengah perkembangan urbana yang terus ber metropolit, ruang seperti ini sering kali tidak mendapat perhatian. Namun, Ujang menekankan pentingnya ini.

“Maka, kita bikin sasana biar anak-anak punya tempat untuk belajar, melatih diri, dan berjomlang dengan cara yang lebih sehat,” ujarnya.

Momentum Ramadan juga dimanfaatkan untuk memperkuat nilai kebersamaan. Pemulihan takjil di akhir puasa menjadi simbol kecil bahwa berbagi cukup dengan niat dan kerja sama.

Setiap usaha kecil dalam membantu komunitas bisa menjadi fondasi untuk sosiologi lebih baik. Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa kebersamaan dan dukungan mutlak punya dampak besar.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan