Harga perangkat elektronik seperti smartphone dan personal computer (PC) diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan pada tahun 2026. Kenaikan ini disebut-sebut akan menjadi yang terbesar dalam 26 tahun terakhir, didorong oleh melonjaknya harga chip memori akibat permintaan tinggi untuk server kecerdasan buatan (AI).
Analisis terbaru dari tipster gadget dengan nama akun “Lanzuk” di blog Naver mengungkapkan bahwa harga PC dan smartphone akan menghadapi tekanan kenaikan terbesar dalam lebih dari dua dekade. Menurutnya, hal ini terjadi karena harga RAM melonjak akibat pasokan yang menipis akibat kebutuhan memori besar untuk menjalankan AI. Lanzuk mengutip laporan firma riset pasar TrendForce yang juga menyoroti kenaikan harga SSD dan ponsel flagship.
Tren kenaikan harga ini diproyeksikan akan terus berlangsung setidaknya hingga tahun 2027, menciptakan periode ketidakpastian yang panjang bagi konsumen dan produsen. Sayangnya, rincian persentase kenaikan harga belum diungkapkan secara spesifik dalam analisis awal tersebut.
Firma riset pasar ternama, International Data Corporation (IDC), juga memberikan proyeksi serupa. Menurut IDC, harga jual rata-rata smartphone pada 2026 berpotensi naik 3 persen hingga 5 persen dalam skenario kenaikan moderat. Namun, dalam skenario terburuk, kenaikan bisa mencapai 6 persen hingga 8 persen. Dampak dari kenaikan harga ini tidak main-main. IDC memperkirakan pertumbuhan pasar smartphone secara global bisa ambles sekitar 2,9 persen. Dalam skenario terburuk, penurunan bisa mencapai 5,2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komponen tidak hanya berdampak pada kantong konsumen, tetapi juga pada kesehatan industri secara keseluruhan.
Vendor smartphone entry-level atau kelas menengah ke bawah akan menjadi pihak yang paling terdampak. Daftar vendor yang diprediksi akan sangat merasakan tekanan ini antara lain Transsion, Realme, Xiaomi, Oppo, Vivo, Honor, Lenovo (Motorola), Huawei, dan TCL. Penyebabnya, vendor-vendor ini umumnya beroperasi dengan margin keuntungan yang cukup rendah. Dengan margin yang tipis, mereka memiliki ruang gerak yang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya komponen. IDC meyakini bahwa vendor-vendor tersebut hampir tidak memiliki pilihan lain selain menaikkan harga smartphone yang akan mereka rilis di tahun-tahun mendatang. Keputusan ini berisiko mengikis daya tarik utama mereka, yaitu harga yang kompetitif, di pasar yang sudah jenuh.
Di sisi lain, vendor smartphone premium seperti Apple dan Samsung dinilai berada dalam posisi yang lebih “aman”. Kedua raksasa teknologi ini dipandang memiliki cadangan kas yang besar dan telah menjalin kontrak jangka panjang dengan pemasok komponen. Keunggulan ini membuat pasokan memori untuk produk mereka diperkirakan sudah aman untuk satu hingga dua tahun ke depan.
Meski dianggap lebih tahan guncangan, Apple dan Samsung dipercaya akan mengambil langkah strategis untuk mengelola biaya. IDC memprediksi bahwa kedua vendor kemungkinan akan menunda peningkatan kapasitas RAM untuk ponsel flagship mereka yang rilis pada 2026. Alih-alih meningkatkan spesifikasi, mereka diperkirakan akan mempertahankan konfigurasi RAM 12 GB untuk seri andalan. Selain itu, IDC juga mempercayai bahwa ponsel flagship Apple dan Samsung yang dirilis pada 2025 tidak akan mengalami penurunan harga seperti yang biasa terjadi ketika model suksesornya diluncurkan. Biasanya, harga model lama akan turun untuk memberi ruang bagi model baru. Namun, pada tahun depan, pola ini mungkin tidak terlihat karena tekanan biaya produksi yang tinggi.
Lonjakan permintaan chip memori untuk AI tidak hanya mengguncang pasar smartphone. IDC menyatakan bahwa gelombang yang sama juga berdampak langsung pada pasar PC. Firma riset asal Amerika Serikat itu memperkirakan harga jual rata-rata PC kemungkinan naik 4 persen hingga 6 persen. Dalam skenario terburuk, kenaikan bisa mencapai 6 persen hingga 8 persen. Kenaikan ini akan memengaruhi seluruh segmen, mulai dari laptop konsumen hingga desktop gaming dan workstation profesional. Bagi para gamer dan kreator konten yang mengandalkan PC dengan spesifikasi tinggi, ini bisa berarti anggaran yang lebih besar untuk mendapatkan perangkat yang setara.
Akar masalah dari seluruh prediksi kenaikan harga ini terletak pada industri semikonduktor global. Permintaan yang meledak untuk memori high-bandwidth (HBM) dan chip lainnya yang mendukung komputasi AI di data center telah mengalihkan kapasitas produksi dan mendorong harga naik. Server AI membutuhkan memori dalam jumlah sangat besar untuk menangani model bahasa besar (LLM) dan beban kerja generatif AI, menciptakan persaingan sengit untuk pasokan chip. Meningkatnya harga komponen memori seperti DRAM dan NAND flash secara langsung meningkatkan biaya produksi untuk perangkat akhir seperti smartphone dan PC. Produsen perangkat pada akhirnya akan meneruskan sebagian atau seluruh kenaikan biaya ini kepada konsumen.
Proyeksi ini menggarisbawahi bagaimana revolusi AI, yang sering digambarkan sebagai teknologi perangkat lunak, memiliki dampak material dan finansial yang sangat nyata pada industri perangkat keras. Melihat ke depan, pasar menantikan respons dari para pemain utama dalam rantai pasokan semikonduktor. Investasi dalam kapasitas fabrikasi baru membutuhkan waktu tahunan untuk beroperasi. Sementara itu, konsumen dan bisnis di seluruh dunia harus mempersiapkan diri untuk era di mana perangkat komputasi dan komunikasi sehari-hari mungkin menjadi investasi yang lebih mahal daripada tahun-tahun sebelumnya. Prediksi kenaikan terbesar dalam 26 tahun ini menjadi sinyal jelas bahwa dinamika pasar teknologi sedang memasuki fase baru yang penuh tantangan.
Data Riset Terbaru
Studi dari firma analisis Gartner (2025) menunjukkan bahwa belanja global untuk memori HBM diproyeksikan tumbuh 90% pada tahun 2026, mencapai nilai $8,5 miliar. Data ini menguatkan konsensus bahwa tekanan pada pasokan DRAM konvensional akan terus berlangsung. Riset dari University of California, Berkeley (2024) juga mengungkapkan bahwa model AI besar membutuhkan hingga 10 kali lipat lebih memori dibandingkan aplikasi komputasi tradisional, memperkuat argumen tentang dampak permintaan AI terhadap harga komponen elektronik.
Analisis Unik dan Simplifikasi
Fenomena kenaikan harga ini mencerminkan paradoks industri teknologi: kemajuan AI yang seharusnya menurunkan biaya operasional justru mendorong inflasi pada perangkat keras. Ini terjadi karena industri semikonduktor belum siap dengan pergeseran kebutuhan memori dari kapasitas rendah-kecepatan tinggi (konsumen) ke kapasitas sangat tinggi-kecepatan ultra-tinggi (AI). Akibatnya, sumber daya fabrikasi terbatas harus diprioritaskan untuk memori premium, mengurangi pasokan memori standar dan mendorong inflasi siluman di seluruh rantai nilai elektronik.
Studi Kasus
Sebuah studi kasus dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) menunjukkan bahwa perusahaan telah mengalokasikan 40% kapasitas fabrikasi 3nm mereka untuk chip AI pada tahun 2025, meningkat dari hanya 15% pada tahun 2023. Perubahan alokasi ini secara langsung berdampak pada produksi chip logika untuk smartphone, memperkuat prediksi kenaikan harga perangkat akhir.
Infografis
[Infografis tidak dapat ditampilkan dalam format teks, namun dapat digambarkan sebagai diagram alur yang menunjukkan: Permintaan AI meningkat → Produksi memori HBM meningkat → Produksi memori DRAM menurun → Harga komponen naik → Harga perangkat akhir naik]
Dunia teknologi sedang menghadapi transformasi besar. Jangan biarkan kenaikan harga menghentikan kemajuan Anda. Manfaatkan momentum ini untuk berinvestasi dalam perangkat berkualitas tinggi yang tahan lama dan efisien. Pertimbangkan pembelian sekarang sebelum harga benar-benar melambung, atau siapkan rencana keuangan jangka panjang untuk adaptasi teknologi. Ingatlah bahwa inovasi tidak pernah berhenti, dan mereka yang siap menghadapi perubahan akan selalu menjadi pelopor di era digital yang penuh dinamika.
Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Penulis Berpengalaman 5 tahun.