Kota Tasikmalaya Kreatif, Tapi Kemiskinan Tetap Nempel? Sentilan Pedas Ketua Dekranasda Jabar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat Noneng Komara Nengsih menyampaikan pernyataan tegas saat meresmikan Priangan Bamboo Fest x Kriya Lokal 2025 di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK) pada Jumat 12 Desember 2025. Ia menekankan bahwa industri kerajinan harus menjadi solusi nyata bagi permasalahan sosial di Kota Tasikmalaya.

Di hadapan pejabat teras kota, Noneng memberikan apresiasi terhadap kreativitas Dekranasda Kota Tasikmalaya yang tetap menggelar festival meskipun terbatasnya anggaran daerah. “Meskipun anggaran banyak efisiensi, makin sedikit anggaran, makin kreatiflah Dekranasda. Bamboo Fest ini contoh bagus untuk daerah lain,” ujarnya.

Namun sorotan utamanya tertuju pada kondisi kesejahteraan masyarakat. Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, ia memaparkan data yang menunjukkan beban sosial Kota Tasikmalaya masih tinggi. “Kemiskinan kita, terutama di Kota Tasik, cukup tinggi. Begitu juga dengan penganggurannya. Walaupun pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi kemiskinan masih sangat tinggi,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa festival kerajinan bukan sekadar ajang pameran budaya, tetapi harus menjadi instrumen ekonomi yang efektif. “Melalui festival ini, mudah-mudahan bisa meningkatkan daya para pengrajin dan menekan pengangguran terbuka di Kota Tasik,” harapnya.

Noneng juga mengungkapkan perhatian khusus Gubernur Jawa Barat Deddy Mulyadi terhadap kriya bambu. “Tempat beliau hampir penuh dengan bambu. Sederhana tapi berdaya,” katanya.

Tanggapan langsung datang dari Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan. Ia mengakui bahwa indikator ketenagakerjaan di wilayahnya memang masih perlu banyak digenjot. “Tingkat pengangguran terbuka kami masih di angka 6,8 persen. Ini mesti kami jaga agar tidak naik,” ujarnya.

Viman menegaskan komitmen pemerintah kota untuk memperkuat UMKM agar mampu naik kelas dan menciptakan lapangan kerja. “UMKM harus naik level. Kriya dan bambu bisa membuka peluang kerja. Sesuai visi misi Tasik Pelak, kami ingin UMKM di tiap kelurahan berkembang, bukan hanya melahirkan pengusaha baru,” tegasnya.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa industri kerajinan berbasis bambu berpotensi meningkatkan pendapatan rumah tangga hingga 40% di daerah pedesaan Jawa Barat. Studi kasus di Desa Cipacing menunjukkan bahwa pengrajin bambu mampu mempekerjakan 5-10 orang per rumah tangga, menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal. Infografis terbaru dari Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat menyatakan bahwa sektor kerajinan bambu mampu menyerap 15.000 tenaga kerja di seluruh provinsi dengan nilai ekspor mencapai Rp 120 miliar per tahun. Festival kerajinan seperti Bamboo Fest menjadi penting sebagai ajang promosi sekaligus pembelajaran bagi pelaku usaha kecil untuk mengembangkan produk yang berdaya saing.

Setiap festival bukan sekadar perayaan, tapi lompatan nyata bagi kesejahteraan. Dari bambu yang sederhana, terbangun mimpi yang besar. Saatnya kreativitas menjadi solusi, bukan sekadar hiasan. Mari wujudkan kota yang berdaya, sejahtera, dan berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan