Detik-Detik Mencekam Kebakaran Terra Drone: Baterai Jatuh dan Menyulut Api

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kebakaran maut di gedung Terra Drone, Jakarta Pusat, telah mengungkap kronologi mencekam yang berujung pada 22 korban jiwa. Polisi membeberkan bahwa api pertama kali muncul dari ruang penyimpanan inventaris di lantai 1, tepatnya dari tumpukan baterai drone tipe lithium polymer (LiPo) yang rusak dan jatuh.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, menjelaskan kejadian tersebut terjadi pada siang hari, Selasa (9/12/2025). Baterai-baterai dalam kondisi rusak tersebut, menurut keterangan saksi, disimpan dengan cara ditumpuk. Saat empat tumpukan baterai terjatuh, percikan api langsung muncul dan menyambar baterai-baterai lain yang masih laik pakai di sekitarnya.

Api yang berasal dari baterai LiPo yang rusak dan bercampur dengan baterai lainnya cepat membesar. Proses pembesaran api terjadi di ruang inventory atau gudang mapping, tempat penyimpanan drone dan baterai cadangan. Dari lantai 1, api kemudian menjalar ke lantai-lantai lain dalam gedung.

Asap tebal yang dihasilkan dari kebakaran baterai LiPo menjadi ancaman utama. Asap tersebut menyebar ke seluruh gedung, menyebabkan korban kehabisan napas sebelum sempat menyelamatkan diri. Dari total 22 korban meninggal, mayoritas tidak meninggal karena luka bakar langsung, melainkan karena asfiksia akibat terhirupnya asap beracun.

Dalam pengungkapan kasus ini, Direktur Utama PT Terra Drone Indonesia, Michael Wisnu Wardhana, ditetapkan sebagai tersangka. Ia dianggap lalai dalam menjalankan tanggung jawab manajerialnya. Tidak adanya SOP penyimpanan baterai berbahaya, petugas K3, pelatihan keselamatan, ruang penyimpanan standar, pintu darurat, dan jalur evakuasi yang berfungsi menjadi sorotan utama.

Tersangka dijerat dengan Pasal 187 KUHP, Pasal 188 KUHP, dan/atau Pasal 359 KUHP terkait kelalaian yang menyebabkan korban jiwa. Kini, Michael Wisnu Wardhana telah ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Pusat.

Data Riset Terbaru:
Sebuah studi dari NFPA (National Fire Protection Association) tahun 2024 menunjukkan peningkatan signifikan kejadian kebakaran akibat baterai lithium-ion, terutama di lingkungan perkantoran dan industri teknologi. Faktor utama penyebabnya adalah penyimpanan baterai yang tidak sesuai standar dan kurangnya pelatihan keselamatan bagi karyawan.

Studi Kasus:
Insiden serupa pernah terjadi di sebuah pusat data di California, AS, pada Maret 2024. Kebakaran akibat baterai lithium-ion yang rusak menyebabkan kerugian material mencapai jutaan dolar dan mengganggu layanan internet regional selama beberapa jam.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Kebakaran baterai lithium-ion bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga mencerminkan lemahnya sistem manajemen risiko di perusahaan. Baterai LiPo, meskipun efisien, sangat reaktif jika tidak ditangani dengan benar. Percikan api dari satu unit baterai rusak bisa memicu reaksi berantai, terutama jika disimpan berdekatan dengan unit lain.

Infografis Konsep:

  • Bahaya Baterai LiPo: Reaksi termal runaway terjadi saat sel baterai rusak, menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar.
  • Penyimpanan Aman: Baterai harus disimpan dalam wadah tahan api, terpisah satu sama lain, dan di area berventilasi baik.
  • Prosedur Darurat: Setiap kantor yang menggunakan baterai high-risk harus memiliki pemadam api khusus (kelas C) dan jalur evakuasi yang jelas.

Keselamatan kerja bukanlah hal yang bisa disepelekan. Setiap perusahaan wajib memastikan SOP ketat dalam penanganan bahan berbahaya, termasuk baterai lithium. Investasi dalam pelatihan, alat pemadam, dan infrastruktur keselamatan adalah bentuk tanggung jawab nyata terhadap nyawa manusia. Jangan biarkan kelalaian merenggut kesempatan hidup orang lain.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan