Ibu-ibu di Pengungsian Bencana Bener Meriah Menangis Saat Ditemui Prabowo

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Prabowo Subianto menyambangi posko pengungsian korban bencana di Desa Wih Pesam, Bener Meriah, Aceh. Saat bersalaman, para pengungsi tampak menangis di hadapannya.

Berdasarkan pantauan Thecuy.com pada Jumat (12/12/2025), Prabowo tiba di lokasi pukul 14.00 WIB. Ia langsung mendekati tenda pengungsian dan menyalami satu per satu warga yang berada di sana. Dalam momen itu, Prabowo terlihat memeluk serta mencium anak-anak yang hadir. Beberapa ibu-ibu di pengungsian pun tak kuasa menahan tangis saat berada di dekat sang Presiden.

Prabowo terlihat memberikan pelukan hangat dan meminta para korban untuk tetap tabah menghadapi musibah ini. Sebagian warga juga tampak membalas pelukan tersebut. Setelah menyapa warga, Prabowo kemudian mengunjungi dapur umum yang berada di lokasi posko, sekaligus bersalaman dengan para petugas yang bertugas.

Dalam kunjungan tersebut, Prabowo ditemani oleh sejumlah pejabat tinggi, antara lain Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Kepala Badan Komunikasi Kepresidenan Angga Raka, dan Mensos Saifullah Yusuf. Turut serta pula Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh hingga 11 Desember 2025, terdapat 6.229 jiwa terdampak banjir di 30 desa tersebar di 7 kecamatan di Bener Meriah. Sebanyak 2.916 KK dan 6.194 jiwa mengungsi di 19 titik lokasi. Korban meninggal dunia mencapai 25 orang, dengan rincian 10 laki-laki dan 15 perempuan. Sebanyak 24 korban telah teridentifikasi, sementara satu korban masih dalam proses identifikasi.

Sebuah survei cepat oleh Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala pada 5-7 Desember 2025 menemukan bahwa 68,2% dari 220 responden di lokasi pengungsian mengalami stres pasca-bencana. Kondisi kesehatan mental menjadi perhatian serius selain pemenuhan kebutuhan dasar.

Studi kasus dari wilayah Timang Gajah menunjukkan bahwa sistem peringatan dini banjir yang terpasang sejak 2023 tidak berfungsi optimal saat kejadian, diduga karena aliran listrik terputus dan tiang sensor rusak diterjang arus. Hal ini memicu diskusi tentang perlunya sistem peringatan berbasis energi surya dan satelit di wilayah rawan bencana.

Saat mengunjungi lokasi, Prabowo menyampaikan arahan agar penanganan darurat dilakukan secara terintegrasi, melibatkan aspek logistik, kesehatan, psikologis, dan keamanan. Ia juga menekankan pentingnya percepatan normalisasi aktivitas warga, termasuk pemulihan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Bencana ini menjadi momentum evaluasi komprehensif terhadap kesiapsiagaan dan respons darurat di wilayah pesisir. Diperlukan investasi jangka panjang dalam sistem peringatan dini, penataan hunian yang aman bencana, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman hidrometeorologi. Keterlibatan semua pihak, dari pemerintah hingga relawan lokal, menjadi kunci dalam membangun ketahanan komunitas yang berkelanjutan. Pemulihan bukan hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan rasa aman dan harapan warga terdampak.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan