Menghadang Polusi di Tasik Baseuh dengan Upaya Merah Putih dan Arung Jeram di Ciwulan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Festival Sungai Tasik Baseuh telah berakhir dengan sukses di sungai Ciwulan pada Minggu, 9 November 2025. Salah satu momen paling menarik adalah saat bendera merah putih ukuran besar dikibarkan di tengah sungai.

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi ke-24 Kota Tasikmalaya, yang berlangsung selama tiga hari sejak 7 November. Event ini didukung oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) serta diikuti oleh ratusan peserta, termasuk pejabat, atlet, dan penggemar olahraga air dari berbagai daerah, hingga peserta dari Inggris.

Festival ini bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga menggabungkan pendidikan lingkungan, tradisi lokal, dan dukungan bagi UMKM. Salah satu aktivitas yang membuat peserta terpikat adalah membentangkan bendera merah putih di tengah sungai Ciwulan.

Dalam tiga hari pelaksanaan, acara tersebut menawarkan berbagai kegiatan, seperti pelatihan keselamatan sungai dan teknik pengelolaan aliran air, pameran produk UMKM, serta diskusi pendidikan tentang budaya sungai.

Asep Maksum, yang lebih dikenal dengan panggilan Chopet, sebagai kepala pelaksana Tasik Baseuh, mengungkapkan bahwa acara ini tidak hanya sekedar kegiatan wisata air. “Sungai dulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Tasikmalaya. Sekarang, kami ingin menyambung kembali hubungan itu,” katanya.

Momen pembentangan bendera merah putih di sungai tidak hanya simbol perjuangan sejarah, tetapi juga sebuah pesan untuk meneruskan semangat perjuangan dalam menjaga lingkungan. “Menjaga sungai adalah bentuk kepahlawanan di zaman sekarang,” ungkapnya.

Harniwan Obech, Presiden Republik Aer Tasikmalaya dan Ketua FAJI Kota Tasikmalaya, menyerukan bahwa sungai adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. “Kita hidup dan berkembang dengan air yang sama. Jika sungai rusak, maka kita juga akan terpengaruh,” katanya.

Ia menambahkan bahwa aksi pembentangan bendera bukan hanya semata-mata upacara, melainkan pengingat bagi semua warga untuk mengingat kembali tanggung jawab mereka dalam merawat sungai Ciwulan, yang merupakan identitas kota. “Cinta tanah air dimulai dari menguatkan aset alam yang kita miliki,” tutupnya.

Tasik Baseuh berhasil menginspirasi para peserta untuk lebih peduli akan lingkungan, menunjukkan bahwa kegiatan olahraga air dapat juga menjadi wadah untuk pendidikan dan sosialisasi budaya. Inisiatif ini membuktikan bahwa perjuangan untuk melestarikan alam bisa dilakukan dengan cara kreatif dan berdampak positif bagi masyarakat.

Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk selalu ingat bahwa perjuangan tidak hanya tentang masa lampau, tetapi juga tentang upaya bersama untuk menjaga lingkungan dan memperkuat identitas lokal. Setiap tindakan kecil, seperti merawat sungai, bisa menjadi langkah menuju masa depan yang lebih baik. Mari kita mulai dari sekarang, dengan mengawal dan melestarikan sungai yang telah menjadi bagian dari kisah hidup kita.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan