Kebiasaan 90 detik yang bisa membuat hidup lebih bahagia—coba terapkan untuk memulai hari Senin.

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Bagi sebagian orang, mudah tersesat dan tenggelam dalam emosi intens yang sedang mereka alami. Misalnya, ketika mereka menghadapi masalah rumit yang membuat mereka stres. Amarah sudah memuncak, kata menyerah sudah terasa di ujung lidah.

Membiarkan emosi negatif terus-menerus menguasai diri adalah jalan singkat untuk menghilangkan ketenangan dan kebahagiaan dari hidup. Kemarahan dan stres berlebih bisa merusak kualitas hidup.

Jika kamu sedang berada dalam situasi ini, kamu bisa mencoba “aturan 90 detik” yang membantu mengatasi emosi negatif yang terjebak dalam diri. Mantan Chief Business Officer di Google [X] dan penulis empat buku terlaris internasional, Mo Gawdat telah meneliti ilmu kebahagiaan selama lebih dari 20 tahun dari sudut pandang logis dan filosofis, menggunakan diagram alur dan rumus untuk menemukan akar penyebab ketidakbahagiaan.

Ia menemukan kebiasaan yang bisa membantu kita menemukan kegembiraan dan kepuasan dalam waktu singkat. Dalam podcast “High Performance”, Gawdat menyebut kebiasaan ini sebagai “aturan 90 detik”. Ketika sesuatu yang memicu kemarahan atau kecemasan terjadi dalam hidup, berikan diri kita waktu 90 detik untuk merasakan kekesalan itu. Setelah itu, pilih untuk mengalihkan fokus ke hal lain.

Kebiasaan ini didasarkan pada wawasan yang diperoleh Gawdat dari seorang neuroscientist lulusan Harvard, Jill Bolte Taylor. Taylor menemukan bahwa hanya butuh 90 detik bagi hormon stres dan kemarahan, seperti kortisol dan adrenalin, untuk keluar dari tubuh.

Jika kita masih marah setelah 90 detik, hal ini terjadi karena kita secara tidak sadar memutar ulang pikiran tentang penyebab kekesalan itu di kepala. Setiap kali kita memikirkannya lagi, tubuh kembali melepaskan hormon stres tersebut.

Setelah 90 detik pertama berlalu dan efeknya mereda di tubuh, muncul jeda. Pada fase ini, reaksi fisik tubuh sudah lebih tenang, sehingga emosi tidak lagi sepenuhnya mengendalikan diri. Setelah itu, kita punya kekuatan untuk memilih apakah ingin terus terjebak dalam emosi tersebut, atau menggunakan akal untuk fokus ke hal lain dan mencari solusi.

                                                                                                                                                                                            <section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="3 Pertanyaan yang Bisa Diajukan dalam Aturan 90 Detik" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="325730" dtr-ttl="3 Pertanyaan yang Bisa Diajukan dalam Aturan 90 Detik" onclick="_pt(this)" readability="43.338645418327">
                            <h2 class="fw-bold fs-5">3 Pertanyaan yang Bisa Diajukan dalam Aturan 90 Detik</h2>
                            <div readability="7">
                                <img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2025/11/03/bersyukur-dengan-kondisi-kulit-yang-dimiliki-1762142362351.jpeg?w=700&q=90" alt="Kadang-kadang kita bertemu orang yang bisa mengganggu kita. Oleh sebab itu, penting untuk belajar cara mengatasi frustrasi saat harus berhadapan dengan mereka." title="Kadang-kadang kita bertemu orang yang bisa mengganggu kita. Oleh sebab itu, penting untuk belajar cara mengatasi frustrasi saat harus berhadapan dengan mereka."/>
                                <p>Tiga pertanyaan yang dapat diajukan dalam aturan 90 detik/Foto: Magnific.com/benzoix</p>
                            </div>
                            <p>Untuk bisa pulih lebih cepat dari berbagai kejadian tidak menyenangkan dalam hidup, Gawdat mengatakan ia biasa mengajukan tiga pertanyaan pada dirinya sendiri:</p>
  1. Apakah hal ini benar?
  2. Apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya?
  3. Apakah saya bisa menerimanya dan tetap bertindak meski hal ini terjadi?

“Sembilan puluh persen dari hal-hal yang membuat kita tidak bahagia sebenarnya tidak nyata. Misalnya, ketika pasangan Anda mengatakan sesuatu yang menyakitkan, otak Anda mungkin langsung menyimpulkan bahwa dia tidak lagi mencintai Anda, padahal itu tidak benar,” katanya.

Berdasarkan ketiga pertanyaan di atas, jika kamu menjawab “tidak” pada pertanyaan pertama, alihkan fokus ke hal lain. Tapi jika kamu menjawab “ya”, lanjutkan ke pertanyaan kedua dan ulangi proses yang sama.

“Jika ada tindakan yang bisa diambil, lakukanlah. Jika tidak, lakukanlah “penerimaan yang berkomitmen”, yaitu mengakui apa yang telah terjadi dan menganggapnya sebagai keadaan normal yang baru,” tambah Gawdat.

Membiasakan diri dengan hal baru memang bisa sulit, terutama ketika kita diliputi emosi. Dalam sebuah studi pada tahun 2009, peneliti psikologi Phillippa Lally menemukan bahwa diperlukan waktu antara 18 hingga 254 hari untuk membentuk kebiasaan, tergantung pada individu dan situasi.

Namun, menurut Gawdat, menyadari bagaimana kita merespons momen-momen sulit dalam hidup adalah langkah pertama untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih besar.

***

Ingin menjadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa mengikuti berbagai acara online dan offline seru yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa. Yuk, bergabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

                <p>(naq/naq)</p>

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan