
TASIK, Thecuy.com – Upaya melestarikan budaya Sunda di Kota Tasikmalaya dikritik sebagai tindakan seremonial hanya untuk pencitraan. Pemerintah daerah dan sekolah dinilai nyaman terjebak dalam rutinitas upacara seperti mengenakan pakaian adat hanya sekali seminggu, sementara bahasa ibu justru semakin asing di tanah kelahirannya.
Penurunan penggunaan bahasa daerah di lingkungan pendidikan mendapat sorotan tajam dari Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra.
Dia menegaskan, identitas Sunda tidak akan bertahan jika lembaga pendidikan hanya sibuk memamerkan pakaian adat tanpa ada pembiasaan dalam percakapan sehari-hari.
Kemiskinan Kota Tasikmalaya turun menjadi 9,34 persen, Viman: Berkat kerja sama semua pihak, listrik terang, PAD redup.
“Pelestarian budaya Sunda tidak boleh hanya dinilai dari pakaian atau kegiatan seremonial. Bahasa juga merupakan bagian penting dari budaya yang harus kita jaga,” kata Diky, mengkritik fenomena ‘gaya Sunda, tutur asing’ di kalangan generasi muda saat ini.
Menanggapi kepunahan perlahan bahasa Sunda di kalangan pelajar, Diky mendorong sekolah-sekolah di bawah naungan Pemkot Tasikmalaya untuk menerapkan program harian menggunakan bahasa Sunda secara nyata.
Dia memperingatkan agar program ini tidak bernasib sama seperti wacana pemerintah lainnya yang hanya indah di atas kertas.
“Jangan sampai programnya hanya ada di atas kertas. Yang paling penting adalah bagaimana bahasa Sunda benar-benar digunakan dan menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Dia menambahkan, pembiasaan ini bukan sekadar mengganti kata baku dengan bahasa Sunda seadanya, melainkan memahami undak-usuk (tata krama) dan nilai kesopanan yang belakangan hilang.
“Anak-anak harus dikenalkan dan dibiasakan. Jangan sampai mereka mengaku orang Sunda, tetapi dalam kesehariannya justru semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri. Guru juga jangan cuma menuntut siswa, tapi harus memberi contoh,” ujarnya.
Upaya ini tidak berhenti pada janji program harian; penguatan bahasa Sunda kini didorong untuk masuk lebih dalam ke struktur kurikulum melalui mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).
Jangan biarkan kebaikan terpecah! Dzikir bersama menjadi upaya untuk menyatukan pedagang Pasar Cikurubuk di Kota Tasikmalaya. AMI: Kritis kapan-kapan!
Langkah terstruktur ini dianggap penting agar sastra, nilai budaya, dan kesopanan berbahasa tidak hilang ditelan zaman.
Namun, Diky mengingatkan Dinas Pendidikan dan sekolah agar tidak setengah hati dalam menyiapkan kurikulum, materi ajar, dan kesiapan guru.
Cek berita lainnya di News Page
Terima kasih telah mengunjungi thecuy . 🙂

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].