Penyebab Pelemahan Rupiah Menjadi Rp 17.951 per Dolar AS

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Thecuy.com – Bank Indonesia (BI) menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Situasi ini memicu penguatan dolar AS dan meningkatkan risiko arus keluar dana dari pasar keuangan negara berkembang.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 48 poin atau 0,27 persen di level Rp 17.951 per dolar AS pada awal perdagangan 15 Oktober. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, mengatakan rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya mendorong ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih agresif oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Di sisi lain, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi, yakni di atas USD 105 per barel. Kondisi ini juga meningkatkan risiko fiskal ke depan. Tekanan dari kedua faktor tersebut tercermin pada penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) yang sempat melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025. Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor dua tahun sempat naik 12 basis poin (bps) menjadi 4,90 persen.

Erwin menjelaskan memburuknya sentimen pasar global mendorong investor menghindari aset berisiko. Situasi ini turut memperbesar tekanan terhadap aliran modal portofolio di negara-negara berkembang, terutama di tengah kenaikan imbal hasil obligasi. “Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen,” kata Erwin dalam keterangan tertulis.

Meski menghadapi tekanan eksternal, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal tercatat terbatas sebesar 0,17 persen. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia masih terjaga. BI mencatat cadangan devisa sebesar USD 146,3 miliar pada akhir September 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar offshore maupun domestik. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain intervensi di pasar valuta asing dan obligasi, BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas. Bank sentral turut mengintensifkan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. “Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” ujar Erwin.

Baca juga Berita lainnya di News Page

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan