Dinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya: Mewariskan Pengetahuan, Bukan Kekuasaan

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Mewarisi kekuasaan dan mewariskan pengetahuan adalah dua hal yang berbeda.

Jika dinasti politik berbicara tentang kelangsungan kekuasaan, dinasti literasi justru menuntut kemampuan membaca, berpikir kritis, dan melahirkan karya baru.

Inisiatif ini diangkat oleh Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT) melalui program seni budaya bertajuk Dinasti Literasi: Peluncuran, Diskusi, dan Alih Wahana Buku di Galeri Buleud, Jalan Pemuda Nomor 1, Kota Tasikmalaya.

Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!

Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, mengatakan, penggunaan istilah dinasti dalam program tersebut merupakan metafora budaya untuk membedakan pewarisan pengetahuan dari pewarisan kekuasaan.

“Jika dinasti politik cenderung berorientasi pada pewarisan kekuasaan, maka dinasti literasi berbicara mengenai pewarisan pengetahuan, sensitivitas, dan kreativitas,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, kekuasaan dapat diwariskan tanpa kompetensi. Sebaliknya, tradisi literasi tidak akan bertahan hanya dengan meneruskan nama atau simbol, tetapi membutuhkan generasi yang mampu membaca, mengkritik, dan menciptakan karya baru.

Gagasan itu menjadi landasan KCT dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan lintas generasi.

Sebab, budaya tidak cukup dirayakan melalui acara, tetapi juga perlu dipupuk melalui proses membaca, berdiskusi, dan melahirkan gagasan.

Program Dinasti Literasi berlangsung selama satu minggu pada tanggal 10-17 Oktober 2026. Kegiatan ini menampilkan tiga buku dengan latar tematik dan keterhubungan gagasan yang berbeda.

Ketiganya adalah Remang Jalan ke Surau, antologi puisi karya Acep Zamzam Noor yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya; Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan, antologi puisi karya Imana Tahira terbitan Sulur Pustaka; serta Musim Dingin di Cipasung: Kumpulan Permenungan Kontemporer karya Diwan Masnawi yang diterbitkan Basabasi.

Lumiland Dadaha Resmi Dibuka, Wali Kota Tasik Bidik Efek Ekonomi dan Puluhan Ribu Siswa Bisa Masuk Gratis  Ratusan Barista Kota Tasikmalaya Disertifikasi, Diuji Biar Kopi Enggak Cuma Modal Gaya

Ketiga buku tersebut menjadi pintu masuk untuk membahas karya sastra, pengalaman manusia, dan perkembangan pemikiran dalam ruang diskusi publik.

Sejumlah akademisi, penyair, dan pengamat sosial turut dihadirkan untuk memperkaya pembahasan.

Tidak berhenti pada peluncuran buku dan diskusi, KCT juga menghadirkan agenda alih wahana.

Melalui pendekatan ini, teks sastra diterjemahkan ke dalam medium seni lain, mulai dari musikalisasi puisi, seni pertunjukan, seni rupa, hingga karya multimedia.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan