3 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Disadari Membuat Anak Mudah Merasa Khawatir

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Merasa cemas terhadap anak adalah hal yang alami dan pasti pernah dialami oleh semua orang tua.

Akan tetapi, rasa khawatir berlebihan yang ditunjukkan oleh orang tua bisa membuat anak juga merasa mudah cemas, Thecuy.

Berdasarkan rangkuman dari Huff Post dan Psychology Today, berikut adalah beberapa kebiasaan orang tua yang tanpa disadari bisa membuat anak mudah merasa cemas.

                                                                                                                                                                                            <section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="1. Terlalu Berhati-Hati" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="324705" dtr-ttl="1. Terlalu Berhati-Hati" onclick="_pt(this)" readability="24.855140186916">
                            <h2 class="fw-bold fs-5">1. Sangat Hati-Hati (Berlebihan)</h2>
                            <div readability="7">
                                <img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/02/3-kalimat-diucap-orang-tua-yang-membentuk-mental-tangguh-anak-menurut-pakar-1785633528078_43.jpeg?w=700&q=90" alt="Tiga kalimat dari orang tua dapat membantu membangun ketangguhan mental anak, menurut para ahli" title="Tiga kalimat dari orang tua dapat membantu membangun ketangguhan mental anak, menurut para ahli"/>
                                <p>Ilustrasi seorang ibu dan anak/ Foto: Pexels.com/Ketut Subianto</p>
                            </div>
                            <p>Kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak mudah cemas adalah terlalu berhati-hati. Psikolog klinis sekaligus penulis, Jenny Yip, menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat memicu kecemasan pada anak.</p>

Karena orang tua terus-menerus mengingatkan anak untuk berhati-hati, secara tidak langsung orang tua seolah-olah memperingatkan anak tentang bahaya setiap saat.

Mengatakan kalimat seperti, “Hati-hati, nanti kamu jatuh” bisa menimbulkan keraguan pada diri anak. Sikap waspada ini memang bisa bermanfaat dalam kadar tertentu tergantung pada karakter anak, namun tidak perlu diulang-ulang terus-menerus, Thecuy.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memperhatikan seberapa sering mereka memberikan peringatan kepada anak dan fokus untuk membantu mereka memahami alasan di balik sesuatu yang dianggap berbahaya.

Misalnya, melarang anak melompat dari meja karena meja bukan tempat untuk bermain atau melompat. Menjelaskan alasan di balik aturan kepada anak memungkinkan mereka memahami berbagai persoalan serta membangun kepercayaan diri untuk mengambil keputusan yang bijak secara mandiri.

2. Minim Mengekspresikan Emosi

Orang tua sering salah mengartikan keinginan anak karena anak tidak memiliki kosakata emosi yang sama dengan orang dewasa. Saat mereka merasakan emosi yang kuat, seperti marah atau malu, mereka mungkin tidak punya kata yang tepat untuk mengungkapkannya.

Ilustrasi seorang ibu dan anak/ Foto: Freepik.com/peoplecreations

Jika orang tua tidak berbicara tentang emosi secara terbuka atau tidak menyediakan ruang yang aman bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya, hal ini dapat memicu penekanan emosi dan kecemasan, Thecuy.

Anak-anak perlu merasa bahwa mereka boleh berbagi emosi tanpa dihakimi. Misalnya, orang tua dapat mengajak anak untuk berbagi cerita, baik hal-hal sederhana di sekolah maupun hal-hal lain yang lebih kompleks.

Selain itu, berikan tanggapan jika diperlukan dan jadikan momen ini sebagai diskusi bersama anak, agar anak memahami pendapat orang tua terhadap hal tersebut.

3. Lebih Mengutamakan Hasil daripada Usaha

Membesarkan anak yang tangguh dapat dimulai dengan memberi mereka kesempatan merasakan keberhasilan dan kegagalan. Orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki diri. Dengan begitu, anak belajar menghadapi kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Ilustrasi orang tua dan anak/ Foto: Magnific

Sikap orang tua yang cenderung memuji hasil alih-alih usaha yang dilakukan anak dapat memicu kecemasan. Karena banyak anak akan merasa cemas dan khawatir akan mengecewakan orang tua jika mereka tidak menjadi yang terbaik dalam segala hal.

Oleh karena itu, orang tua juga perlu memuji anak dan memberikan afirmasi positif untuk mengapresiasi usaha mereka, serta mengingatkan bahwa apa pun hasilnya, mereka tetap anak-anak yang berharga dan dicintai oleh orang tua.

Penelitian telah menunjukkan manfaat dari berfokus pada usaha alih-alih hasil akhir. Pendekatan ini menghilangkan banyak tekanan yang merugikan dan membantu anak menyadari bahwa mereka sudah cukup baik, meskipun mereka tidak unggul dalam segala hal.

—

Ingin menjadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa mengikuti berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

                <p>(sim/sim)</p>

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan