Pernah tidak, Thecuy, merasa kalau hubungan pertemanan hanya berjalan saat kamu yang memulainya? Entah itu mengirim chat lebih dulu, menanyakan kabar, atau mengajak bertemu.
Awalnya mungkin kamu tidak terlalu memikirkan hal itu. Namun, kalau situasi ini terus berulang dan hanya kamu yang berusaha menjaga hubungan, bisa jadi itu adalah one-sided friendship atau pertemanan sepihak.
Hubungan seperti ini sering kali tidak langsung disadari. Banyak orang baru mulai menyadarinya ketika merasa lelah karena selalu menjadi pihak yang lebih banyak memberi perhatian.
Supaya tidak terus terjebak dalam hubungan yang melelahkan, kenali beberapa tanda one-sided friendship dan cara mengatasinya berikut ini!
<section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="1. Selalu Jadi Orang yang Memulai Obrolan" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="322519" dtr-ttl="1. Selalu Jadi Orang yang Memulai Obrolan" onclick="_pt(this)" readability="17.5">
<h2 class="fw-bold fs-5">1. Selalu Jadi Orang yang Memulai Obrolan</h2>
<div readability="8">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/03/ilustrasi-perempuan-menatap-layar-ponsel-sambil-menunggu-balasan-chat-dari-temanfoto-magnificmagnific-1785738179284.jpeg?w=700&q=90" alt title/>
<p>Ilustrasi perempuan menatap layar ponsel sambil menunggu balasan chat dari teman/Foto: Magnific/magnific</p>
</div>
<p>Melansir <em>Psychology Today</em>, psikolog William Rawlins menjelaskan bahwa pertemanan bisa bertahan ketika kedua orang sama-sama berusaha menjaganya. Saat perhatian datang dari dua arah, hubungan pun biasanya terasa lebih hangat dan saling menghargai.</p>
<p>Karena itu, sesekali menjadi orang yang lebih dulu menghubungi teman bukanlah masalah. Hal seperti ini memang wajar terjadi dalam sebuah pertemanan.</p>
<p>Namun, kalau hampir setiap obrolan selalu dimulai darimu, mungkin sudah waktunya lebih peka. Bisa jadi, hanya kamu yang selama ini berusaha menjaga hubungan tersebut.</p> </section>
<section id="section-detail-3" class="multi-card " data-page="3" data-page-title="2. Obrolan Selalu Berputar Tentang Dia" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="322519" dtr-ttl="2. Obrolan Selalu Berputar Tentang Dia" onclick="_pt(this)" readability="22">
<h2 class="fw-bold fs-5">2. Obrolan Selalu Berputar Tentang Dia</h2>
<div readability="7">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/03/ilustrasi-percakapan-yang-didominasi-oleh-satu-orangfoto-magnificmagnific-1785738179445.jpeg?w=700&q=90" alt title/>
<p>Ilustrasi percakapan yang didominasi oleh satu orang/Foto: Magnific/magnific</p>
</div>
<p>Menghabiskan waktu bersama teman seharusnya jadi momen untuk saling berbagi cerita. Namun, kalau yang lebih sering bercerita hanya dia, lama-lama kamu mungkin merasa lebih sering mendengarkan daripada didengarkan.</p>
<p>Saat giliranmu bercerita, obrolan justru sering kembali ke cerita mereka. Akhirnya, apa yang ingin kamu sampaikan jadi sering tertunda, bahkan tidak sempat diceritakan.</p>
<p>Hubungan pertemanan terasa lebih sehat ketika kedua orang sama-sama mau berbagi cerita dan saling memberi respons. Penelitian Gable dkk. (2004) juga menemukan bahwa sikap yang cuek atau mengabaikan cerita teman bisa membuat hubungan perlahan merenggang.</p>
<p>Kalau terus seperti ini, wajar kalau kamu mulai merasa lelah. Sebab, pertemanan yang baik seharusnya membuat satu sama lain merasa didengar.</p> </section>
<section id="section-detail-4" class="multi-card " data-page="4" data-page-title="3. Sering Merasa Lelah Setelah Bertemu Teman" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="322519" dtr-ttl="3. Sering Merasa Lelah Setelah Bertemu Teman" onclick="_pt(this)" readability="20.364717542121">
<h2 class="fw-bold fs-5">3. Sering Merasa Lelah Setelah Bertemu Teman</h2>
<div readability="7">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/03/ilustrasi-seorang-perempuan-yang-terlihat-lelah-setelah-bertemu-temannyafoto-magnificstockking-1785738179606.jpeg?w=700&q=90" alt title/>
<p>Ilustrasi seorang perempuan yang terlihat lelah setelah bertemu temannya/Foto: Magnific/stockking</p>
</div>
<p>Thecuy, pernah merasa energimu seperti habis setiap kali selesai bertemu dengan teman? Bukannya merasa lebih senang, kamu justru merasa makin lelah setelah pulang.</p>
<p>Perasaan setelah bertemu seseorang ternyata juga bisa menjadi tanda kondisi sebuah hubungan. Sebab, pertemanan seharusnya membuatmu merasa nyaman, bukan terbebani.</p>
<p>Penelitian Walen dan Lachman (2000) menemukan bahwa hubungan pertemanan yang penuh tuntutan, sering mengkritik, atau sulit diandalkan bisa memicu social strain. Kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental maupun kesehatan fisik.</p>
<p>Kalau setiap selesai bertemu seseorang kamu justru merasa energimu terkuras, mungkin pertemanan itu memang sudah tidak terasa sehat lagi. Tidak semua hubungan harus dipertahankan kalau hanya membuatmu lelah sendirian.</p> </section>
<section id="section-detail-5" class="multi-card " data-page="5" data-page-title="4. Selalu Memaklumi Sikap Teman" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="322519" dtr-ttl="4. Selalu Memaklumi Sikap Teman" onclick="_pt(this)" readability="19">
<h2 class="fw-bold fs-5">4. Selalu Memaklumi Sikap Teman</h2>
<div readability="7">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/03/ilustrasi-seorang-perempuan-yang-Tampak-memikirkan-sikap-temanyafoto-magnificmagnific-1785738179769.jpeg?w=700&q=90" alt title/>
<p>Ilustrasi seorang perempuan yang tampak memikirkan sikap temannya/Foto: Magnific/magnific</p>
</div>
<p>Kadang, kita tahu teman sudah berbuat salah. Namun, entah kenapa kita tetap mencari alasan supayam sikapnya terasa bisa dimaklumi.</p>
<p>Actually, tidak semua sikap harus terus ditoleransi. Kalau rasa kecewa datang berulang kali, wajar kalau kamu mulai mempertanyakan hubungan tersebut.</p>
<p>Blieszner dan Adams (1992) menjelaskan bahwa pola kekecewaan yang terus berulang bisa membuat hubungan dengan teman jadi semakin jauh. Apalagi kalau hanya satu orang yang terus berusaha memahami dan memaklumi.</p>
<p>Memberi pengertian kepada teman memang penting. Namun, bukan berarti kamu harus terus mengorbankan perasaanmu sendiri.</p> </section>
<section id="section-detail-6" class="multi-card " data-page="6" data-page-title="Cara Mengatasi One-Sided Friendship" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="322519" dtr-ttl="Cara Mengatasi One-Sided Friendship" onclick="_pt(this)" readability="40.292168674699">
<h2 class="fw-bold fs-5">Cara Mengatasi One-Sided Friendship</h2>
<div readability="8">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/03/ilustrasi-dua-sahabat-yang-sedang-berbicara-dengan-tenang-untuk-menyelesaikan-masalahfoto-magnificdc-studio-1785738179945.jpeg?w=700&q=90" alt title/>
<p>Ilustrasi dua sahaabat yang sedang berbicara dengan tenang untuk menyelesaikan masalah/Foto: Magnific/DC Studio</p>
</div>
<p>Saat mulai sadar hubungan pertemanan ini terasa sepihak, wajar kalau kamu bingung harus bagaimana, Thecuy. Ingin menjaga pertemanan, tetapi di sisi lain juga mulai merasa lelah.</p>
<p>Sebelum mengambil keputusan, coba lihat lagi hubungan kalian dengan lebih tenang. Apakah selama ini temanmu memang tidak sadar, atau sebenarnya dia sudah terbiasa membiarkan kamu yang selalu mengalah?</p>
<p>Melansir Verywell Mind, psikoterapis Cheryl Groskopf menyarankan untuk melihat lagi bagaimana dinamika hubungan kalian selama ini. Bisa jadi temanmu memang belum sadar kalau kamu merasa terus memberi lebih banyak perhatian daripada menerima.</p>
<p>Kalau memang masih ingin bertahan, cobalah berbicara dari hati ke hati. Tidak perlu mencari siapa yang salah, cukup ceritakan apa yang selama ini kamu rasakan.</p>
<p>Namun, kalau keadaan tetap tidak berubah meski kamu sudah mencoba, tidak apa-apa mulai menjaga jarak. Sebuah pertemanan seharusnya bisa membawa rasa nyaman dan kebahagiaan, bukan justru membuatmu terus merasa lelah.</p>
<p>Kalau setelah membaca artikel ini kamu jadi mulai memikirkan kembali hubungan pertemananmu, itu bukan berarti kamu berlebihan, Thecuy. Bisa jadi, ini justru menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan saling menghargai.</p>
<p>***</p>
<p>Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!</p>
</section>
<p>(naq/naq)</p>
terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah penulis di thecuy.com, sebuah website yang berfokus membagikan tips keuangan, investasi, dan cara mengelola uang dengan bijak, khususnya untuk pemula yang ingin belajar dari nol.
Melalui thecuy.com, saya ingin membantu pembaca memahami dunia finansial tanpa ribet, dengan bahasa yang sederhana.