Jumlah anak yang tidak bersekolah di Kota Tasikmalaya masih tinggi, sehingga Pemuda Muhammadiyah mendirikan relawan pendidikan

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Angka anak yang tidak bersekolah yang tinggi di Kota Tasikmalaya mendorong Pengurus Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah Kota Tasikmalaya untuk mengambil langkah nyata. Organisasi pemuda ini secara resmi mendirikan Relawan Pendidikan Muhammadiyah (RPM) sebagai gerakan sosial yang bertujuan membantu anak-anak mendapatkan kembali hak mereka atas pendidikan.

Pembentukan RPM berlangsung dalam rapat konsolidasi kader Pemuda Muhammadiyah, yang juga membahas penerapan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.

Selain itu, para peserta juga meninjau kembali kondisi terkini anak-anak tidak bersekolah di Kota Tasikmalaya sebagai dasar penyusunan program kerja para relawan.

Vendor mengakui belum mampu mengaktifkan sistem tiket parkir, sehingga petugas parkir di Kota Tasikmalaya masih memerlukan pembinaan. Pembangunan gerai Koperasi Merah Putih di Kota Tasikmalaya terhambat oleh aturan luas lahan minimal 1.000 meter.

Ketua Relawan Pendidikan Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, Dykasakti Azhar Nytotama, menyatakan bahwa pembentukan RPM dilatarbelakangi oleh masih banyaknya anak yang belum mengakses pendidikan, khususnya pada jenjang menengah dan tinggi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya pada tahun 2023, Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang SD mencapai 98,72 persen dan SMP 97,02 persen. Akan tetapi, tingkat partisipasi pendidikan untuk kelompok usia 16–18 tahun, yang setara dengan SMA, baru mencapai 73,15 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak remaja yang tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP.

“Kondisi ini semakin mengkhawatirkan pada kelompok usia 19–23 tahun, di mana Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk pendidikan tinggi hanya mencapai 25 persen, yang berarti sekitar tiga dari empat pemuda pada rentang usia tersebut tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurut Dykasakti, masalah anak tidak bersekolah tidak boleh hanya dilihat dari angka statistik semata. Di balik data tersebut, terdapat berbagai permasalahan yang saling terkait, mulai dari keterbatasan ekonomi keluarga, akses ke sekolah, hingga masalah sosial dan administrasi.

“Banyak anak terpaksa putus sekolah karena harus membantu ekonomi keluarga, biaya transportasi yang mahal, pernikahan dini, tidak memiliki dokumen identitas, mengalami perundungan, atau karena belum tersedianya layanan pendidikan yang inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa RPM akan melaksanakan berbagai program untuk mengatasi masalah tersebut, antara lain dengan memberikan beasiswa pendidikan, membuka akses ke Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK), dan memperkuat peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai alternatif bagi anak-anak yang telah lama tidak bersekolah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan